Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto
Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto

Rupiah Tertolong Surplus Neraca Dagang dan Terkendalinya Utang Luar Negeri

Ekonomi rupiah menguat BPS Kurs Rupiah Ekspor-Impor
Husen Miftahudin • 15 September 2021 16:40
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini menguat tipis seiring positifnya data neraca perdagangan Indonesia. Pada Agustus 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang Indonesia surplus sebesar USD4,74 miliar month to month (mtm).
 
"Surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai USD21,42 miliar pada Agustus 2021 atau naik 20,95 persen dari USD17,71 miliar pada Juli 2021. Sedangkan nilai impor mencapai USD16,68 miliar atau naik 10,35 persen dari USD15,11 miliar pada bulan sebelumnya," ungkap Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam siaran persnya, Rabu, 15 September 2021.
 
Selain itu, lanjut Ibrahim, penguatan pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan hari ini juga ditopang oleh terkendalinya Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia. Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), ULN RI pada Juli 2021 sebesar USD415,7 miliar atau setara dengan Rp5.902 triliun (asumsi kurs Rp14.200 per USD) atau tumbuh 1,7 persen dari tahun sebelumnya (year on year/yoy), dan tumbuh 2 persen dari bulan sebelumnya (mtm).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal tersebut disebabkan oleh perlambatan ULN Pemerintah yang pada akhir Juli 2021 mencapai USD205,9 miliar atau sekitar Rp2.923 triliun. Angka itu tumbuh 3,5 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan Juni 2021 sebesar 4,3 persen.
 
"Di samping itu, hal tersebut juga terjadi karena adanya penurunan posisi Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan pembayaran neto pinjaman bilateral di tengah penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan dampak pandemi covid-19," papar Ibrahim.
 
Dari faktor eksternal, investor mencerna kenaikan inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan yang menambah ketidakpastian atas jadwal Federal Reserve untuk memulai pengurangan aset (tapering). Data AS menunjukkan bahwa indeks harga konsumen inti (CPI) tumbuh empat persen (yoy) dan 0,1 persen (mtm) di Agustus.
 
"Kenaikan bulanan ini merupakan kenaikan terkecil dalam enam bulan, yang menunjukkan bahwa inflasi bisa mencapai puncaknya. Namun, itu bisa tetap tinggi untuk sementara waktu di tengah kendala pasokan yang terus-menerus. Data juga menunjukkan bahwa CPI masing-masing tumbuh 5,3 persen (yoy) dan 0,3 persen (mtm)," jelasnya.
 
Menurut dia, dengan data yang lebih lemah dari perkiraan menimbulkan keraguan pada garis waktu Federal Reserve AS untuk memulai pengurangan aset. "Investor sekarang menunggu keputusan kebijakan bank sentral yang akan diturunkan minggu depan," urainya.
 
Di Asia Pasifik, data ekonomi Tiongkok menunjukkan bahwa produksi industri tumbuh lebih rendah dari perkiraan yakni 5,3 persen (yoy). Sementara investasi aset pada Agustus 2021 tetap tumbuh tinggi sebesar 8,9 persen (yoy) dan penjualan ritel tumbuh 2,5 persen (yoy).
 
"Selain itu, ada kekhawatiran Tiongkok yang lebih luas di pasar keuangan adalah laporan media bahwa pengembang properti China Evergrande Group tidak akan dapat melakukan pembayaran bunga atas utangnya minggu depan," imbuh Ibrahim.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif