Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sekaligus Direktur Utama BRI Sunarso. Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah.
Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sekaligus Direktur Utama BRI Sunarso. Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah.

Perbankan Minta Kebijakan Restrukturisasi Kredit Diperpanjang

Ekonomi Perbankan Stimulus Ekonomi Imbas Korona
Husen Miftahudin • 14 Juli 2020 07:32
Jakarta: Industri perbankan menilai kebijakan restrukturisasi kredit masih sangat diperlukan. Hal ini seiring dengan meningkatnya pengajuan restrukturisasi kredit pada segmen non-Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
 
Oleh karenanya Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sekaligus Direktur Utama BRI Sunarso meminta perpanjangan jangka waktu relaksasi kredit ini secara langsung kepada Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam pertemuannya dengan industri perbankan.
 
"Kebijakan restrukturisasi dari OJK dirasakan sangat membantu perbankan dan sektor riil. Maka di dalam pertemuan tadi kita minta kebijakan itu bisa diperpanjang jangka waktunya," ucap Sunarso dalam telekonferensi bersama, Senin, 13 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sunarso mengusulkan agar jangka waktu kebijakan restrukturisasi kredit diperpanjang selama satu tahun. Bila disetujui, jangka waktu kebijakan restrukturisasi kredit akan berlangsung hingga 31 Maret 2021.
 
Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni Eko Boy Subari sepakat dengan Sunarso. Dia bilang, kebijakan restrukturisasi kredit sangat bermanfaat bagi industri untuk menghadapi kondisi dan tantangan di tengah pandemi covid-19.
 
"Sehingga ujungnya kita juga berharap bahwa POJK 11 yang berkaitan dengan relaksasi insyaallah akan kita evaluasi untuk diperpanjang lagi," ungkap Toni.
 
Kebijakan restrukturisasi kredit tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019. Dalam ketentuan ini, perbankan dapat menerapkan kebijakan stimulus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berlaku sejak 13 Maret 2020 sampai dengan 31 Maret 2021.
 
Stimulus ini berupa pelonggaran penilaian kualitas kredit dan restrukturisasi kredit perbankan kepada debitur yang terdampak korona. Pemberian stimulus ditujukan kepada debitur pada sektor-sektor yang terdampak penyebaran covid-19, termasuk debitur UMKM. Stimulus diterapkan dengan tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian yang disertai adanya mekanisme pemantauan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dalam penerapan ketentuan (moral hazard).
 
Terdapat dua stimulus yang diberikan industri perbankan kepada para debitur yang terdampak korona. Pertama, penilaian kualitas kredit atau pembiayaan atau penyediaan dana lain hanya berdasarkan ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga untuk kredit sampai dengan Rp10 miliar.
 
Kedua, restrukturisasi dengan peningkatan kualitas kredit atau pembiayaan menjadi lancar setelah direstrukturisasi. Ketentuan restrukturisasi ini dapat diterapkan bank tanpa batasan plafon kredit.
 

(ABD)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif