Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari. FOTO: Mandiri Syariah
Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari. FOTO: Mandiri Syariah

Perbankan Syariah, Berjibaku di Tengah Gempuran Covid-19

Ekonomi perbankan syariah Virus Korona Bank Syariah Mandiri (BSM)
Angga Bratadharma • 25 September 2020 14:41
Jakarta: Pandemi covid-19 telah memberikan tekanan sangat keras terhadap perekonomian hingga harus terkontraksi di kuartal II-2020, termasuk dampak buruknya kepada bisnis perbankan di Tanah Air. Namun hebatnya, perbankan syariah justru terbilang memiliki daya tahan lebih kuat ketimbang perbankan konvensional.
 
Ketua Umum Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni EB Subari mengungkapkan perbankan syariah di Indonesia terus berkembang dan menunjukkan pertumbuhan. Hal ini tercermin dari persentase pertumbuhan perbankan syariah, baik dari aset, pembiayaan, maupun DPK yang lebih tinggi dari perbankan konvensional maupun perbankan nasional.
 
Guna memaksimalkan pertumbuhan dan memperkokoh fondasi perbankan syariah, Toni berpandangan, satu kuncian yang saat ini menjadi semakin penting adalah digitalisasi perbankan syariah dan peningkatan literasi dari masyarakat di Indonesia. Pun pandemi covid-19 menjadi momentum untuk berinovasi sekaligus mengoptimalkan teknologi digital.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Apalagi saat ini, platform perbankan digital menjadi channel utama untuk nasabah bertransaksi sehari-hari," kata Toni, saat workshop virtual, Jumat, 25 September 2020.
 
Pernyataan Toni bukan isapan jempol semata. Menurut data SPS dan SPI-OJK, aset perbankan syariah sampai Juli 2020 tumbuh 9,88 persen, sedangkan perbankan konvensional tumbuh 5,3, dan perbankan nasional tumbuh 5,63 persen. Kondisi ini terjadi di tengah pandemi covid-19 yang membuat ekonomi tidak menentu.
 
Sedangkan untuk pembiayaan tercatat penyaluran pembiayaan di perbankan syariah sampai Juli 2020 tumbuh 20,23 persen, lebih tinggi ketimbang pertumbuhan penyaluran kredit yang hanya 1,04 persen, dan perbankan nasional tumbuh 1,61 persen. Begitu juga dengan DPK. Perbankan syariah mampu menumbuhkan DPK 8,78 persen di Juli 2020.
 
Kondisi itu mengartikan bahwa perbankan syariah bisa menjadi energi baru untuk pemulihan ekonomi nasional, di saat perbankan konvensional kehilangan sedikit tenaga untuk mendorong perekonomian. "Sedangkan DPK perbankan konvensional tumbuh 8,44 persen, dan perbankan nasional 8,46 persen," kata Toni.
 
Toni menilai data-data tersebut menunjukkan perbankan syariah cukup kuat dan memiliki daya tahan terutama di tengah pandemi covid-19. Bahkan, hal itu terjadi di tengah masih adanya tantangan besar yang mendera perbankan syariah di Indonesia, baik dari sisi keterbatasan jaringan maupun belum maksimalnya literasi dan inklusi keuangan syariah.
 
Terkait keterbatasan jaringan, Toni mencatat, layanan syariah dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia berada di rasio satu kantor cabang melayani 115.780 nasabah. Sedangkan layanan konvensional dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia berada di rasio satu kantor cabang melayani 19.297 nasabah.
 
Jika dibandingkan dengan jumlah bank, sejauh ini tercatat ada 96 bank umum konvensional. Sedangkan untuk bank umum syariah ada sebanyak 14 bank syariah, dan 20 Unit Usaha Syariah (UUS) di Indonesia. Menilik angka itu maka perbankan syariah kalah dalam segi kuantitas dari perbankan konvensional.
 
Mengenai literasi dan inklusi, tercatat indeks literasi perbankan konvensional di angka 29,66 persen dan indeks inklusi di angka 67,82 persen. Sedangkan untuk perbankan syariah tercatat indeks literasi di angka 8,11 persen dan indeks inklusi di angka 11,06 persen.
 
"Alhamdulillah perbankan syariah pertumbuhannya masih lebih baik dibandingkan dengan perbankan konvensional. Artinya bank syariah semakin dipercaya oleh masyarakat," tukasnya.
 
Toni yang juga menjabat Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menambahkan terdapat potensi pangsa syariah sebesar 44 persen atau 100 juta individu. Hal itu berangkat dari fakta bahwa jumlah penduduk Muslim Indonesia mewakili 12,7 persen dari total penduduk Muslim dunia.
 
"Dan setidaknya 44 persen atau kurang lebih 100 juta penduduk Indonesia percaya bahwa prinsip syariah merupakan salah satu preferensi yang penting di dalam hidup mereka," kata Toni.
 
Sementara itu, ekonom yang juga Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan periode 2015-2020 Fauzi Ichsan memandang di tengah pandemi covid-19 perbankan syariah mampu tumbuh dan menunjukkan daya tahan yang kuat. Meski tidak ditampik, ia menilai, ada tantangan yang menghadang perbankan syariah yang harus bisa segera dicarikan jalan keluarnya.
 
Fauzi mengungkapkan tantangan itu seperti talenta yang terbatas karena berkompetisi dengan perbankan konvensional, jaringan cabang bank syariah yang hanya sekitar 1/9 dari jumlah total cabang bank mengingat usia operasional perbankan syariah jauh lebih muda ketimbang bank konvensional, dan digitalisasi terbatas.
 
Tantangan lainnya yaitu perlunya simplifikasi proses sehingga mampu bersaing dengan bank konvensional, perlu terus memperbaiki struktur DPK sehingga jumlah debitur sehat yang menjadi nasabah perbankan syariah jumlahnya terus meningkat, dan DPK mudharabah yang diperlukan sebagai simpanan di neraca bank.
 
Di sisi lain, Fauzi melihat adanya prospek dan implementasi strategi yang perlu dijalankan perbankan syariah di balik tantangan yang ada. Prospeknya seperti Indonesia merupakan penduduk Muslim terbesar di dunia dengan potensi market syariah yang besar, perlunya membangun ekosistem syariah, perlunya insentif pajak syariah, dan konsolidasi menjadi tren global.
 
"Kemudian harmonisasi prinsip keuangan syariah di Indonesia dengan di negara Islam atau Muslim lainnya seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Arab Emirat. Lalu memastikan bank syariah memiliki induk perusahaan atau investor pengendali yang keuangannya kuat. Tapi memang perbankan syariah di Indonesia memiliki prospek yang sangat bagus," tegasnya.
 
Sementara itu, Direktur IT, Operations & Digital Banking Mandiri Syariah Achmad Syafii menyampaikan Mandiri Syariah terus menjalankan proses digitalisasi produk dengan fokus kepada customer untuk memenuhi kebutuhan nasabah terlebih di tengah situasi pandemi covid-19. Hal itu sejalan dengan upaya untuk terus tumbuh dan memberikan pelayanan lebih maksimal.
 
"Kami gencar melakukan transformasi layanan digital dan mengimplementasikan dalam aplikasi Mandiri Syariah Mobile. Fokus Mandiri Syariah adalah memberikan solusi dan kemudahan bagi nasabah," pungkas Achmad Syafii.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif