Ilustrasi Jiwasraya - - Foto: MI/ Ramdani
Ilustrasi Jiwasraya - - Foto: MI/ Ramdani

Penyebab Gagal Bayar Jiwasraya Mulai Terkuak

Ekonomi laporan keuangan asuransi jiwa Jiwasraya
Eko Nordiansyah • 30 September 2020 21:59
Jakarta: Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mengapresiasi sikap mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2008-2018 Hary Prasetyo yang berani membongkar penyebab kerugian Jiwasraya dalam nota pembelaan (pledoi).
 
Dalam nota tersebut, Hary mengakui dirinya bersama mantan Direktur Utama Jiwasraya Hendrisman Rahim telah melakukan manipulasi laporan keuangan atauwindow dressingsejak pertama kali ditunjuk sebagai pimpinan Jiwasraya pada 2008 silam.
 
Upaya manipulasi laporan keuangan tersebut, kata Hary, dilakukan atas sepengetahuan jajaran Kementerian BUMN selaku pemegang saham dan pejabat Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) yang kini bernama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya menghormati nota pembelaan terdakwa. Semoga dari nota pembelaan terdakwa kemarin aparat penegak hukum bisa membongkar secara terang-benderang kasus korupsi Jiwasraya," kata Boyamin kepada wartawan, Rabu, 30 September 2020.
 
Boyamin berharap terdakwa lainnya juga mengungkap fakta sebenarnya di dalam nota pembelaan yang dibacakan di persidangan kemarin. Namun Boyamin menilai, pledoi Syahmirwan tidak masuk akal karena menyebut penyebab masalah Jiwasraya adalah kebijakan yang diambil Direksi baru periode 2018-2023.
 
Sejak Hendrisman dan Hary dicopot, Kementerian BUMN melakukan pergantian direksi sebanyak tiga kali. Mulai dari Muhammad Zamkhani pada Januari 2018, Asmawi Syam pada Mei 2018, dan Hexana Tri Sasongko pada November 2018 yang baru efektif Januari 2019.
 
"Pergantian-pergantian ini menunjukkan bahwa saat itu pemerintah sudah mengetahui kondisi Jiwasraya yang sesungguhnya. Saya yakin jika terdakwa masih di Jiwasraya, tentunya Jiwasraya akan jebol dan gagal bayar juga," ungkapnya.
 
Selain praktekwindow dressing, faktor penyebab Jiwasraya memiliki ekuitas negatif hingga Rp37,6 triliun per Juli 2020 adalah adanya produk-produk asuransi dengan bunga pasti yang tinggi. Satu diantaranya produk JS Proteksi Plan yang diketahui memiliki bunga pasti mulai dari tujuh hingga 10 persen net per tahun.

 
Masalah semakin bertambah ketika manajemen lama menempatkan portofolio investasi Jiwasraya pada saham-saham berkualitas rendah, baik secara langsung atau dengan reksa dana milik terdakwa lainnya yakni Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat.
 
Sementara aset likuid yang selama ini dimiliki Jiwasraya, habis karena klaim atas JS Proteksi Plan telah meningkat sejak awal 2017. Setelah tidak memiliki aset yang likuid, Asmawi mengumumkan gagal bayar dalam surat bertanggal 15 Oktober 2018 kepada nasabah.
 
"Sudah menjadi fakta bahwa Jiwasraya sudah megap-megap sejak 2017. Saat itu juga sudah banyak nasabah yang mencium bahwa JS Proteksi Plan masuk dalam kategori ponzi. Dan pengumuman itu memang harus diungkap ke publik oleh manajemen baru untuk menenangkan nasabah yang polisnya jatuh tempo," tutup Boyamin.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif