Ilustrasi Bank Indonesia - - Foto: MI/ Susanto
Ilustrasi Bank Indonesia - - Foto: MI/ Susanto

BI Berpeluang Kembali Pangkas Bunga Acuan hingga ke Level 3,5%

Ekonomi Bank Indonesia Kurs Rupiah suku bunga
Husen Miftahudin • 21 November 2020 20:36
Jakarta: Bank Indonesia (BI) baru saja menurunkan suku bunga acuanBI 7 Days Reverse Repo Rateke level 3,75 persen untuk periode November 2020. Suku bunga acuan saat ini menjadi level terendah sepanjang sejarah sejak bank sentral mengubah penghitungan dari bulanan menjadi per pekan.
 
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai Bank Indonesia berpeluang kembali untuk menurunkan suku bunga acuan maksimum 50 bps dan akan membawa suku bunga acuan ke level 3,5 persen. Angka ini bakal menjadi yang terendah sepanjang sejarah kebijakan moneter di Indonesia.
 
"Dengan kondisi rupiah yang stabil didukung inflasi yang masih akan stabil rendah, membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk melanjutkan kebijakan moneter yang longgar dengan suku bunga acuan yang lebih rendah," ungkap CORE Indonesia dalam rilisCORE Economic Outlook 2021dikutip Sabtu, 21 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penguatan mata uang Garuda pada 2021 mendatang didorong perekonomian global yang masih dalam proses pemulihan. Kondisi ini didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal di banyak negara maju yang bersifat ekspansif dengan suku bunga rendah mendekati nol persen.

 
Hal ini menyebabkan likuiditas global masih akan terus berlimpah. Adanya ekspektasi bahwa pandemiakan bisa berakhir pada 2021 berpotensi mendorong aliran modal mengalir ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
 
"Dengan demikian, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dan nilai tukar rupiah secara bertahap berpotensi menguat dibandingkan dengan tahun ini," tegas CORE Indonesia.
 
Di sisi lain, langkah dan kebijakan yang diambil untuk memulihkan ekonomi pada 2021 tidak hanya akan mempengaruhi perekonomian dalam jangka pendek, tetapi juga akan menentukan struktur ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang.
 
CORE Indonesia memandang kondisi resesi ekonomi pada tahun ini seharusnya dimanfaatkan untuk melakukan reformasi dan transformasi ekonomi agar dapat tumbuh lebih kokoh, berkelanjutan, dan lebih tahan terhadap guncangan krisis dalam jangka waktu yang lama. Apalagi, Indonesia saat ini berada pada fase yang mendekati puncak bonus demografi, yang artinya kesempatan(windows of opportunity) untuk melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi semestinya terbuka lebar.
 
"Oleh sebab itu, terobosan-terobosan kebijakan harus dilakukan tidak hanya untuk pemulihan ekonomi dalam jangka pendek saja. Revitalisasi dan pendalaman industri manufaktur, termasuk strategi penguatan ke hulu (backward) maupun ke hilir (forward), harus dipercepat," imbuhnya.
 
Di antara terobosan kebijakan tersebut adalah mengembangkan industri turunan untuk komoditas yang pasokannya melimpah di dalam negeri, seperti minyak sawit, karet, kakao, dan kelapa. Strategi substitusi impor juga perlu dikembangkan untuk produk-produk yang selama ini memiliki ketergantungan impor yang tinggi, seperti obat-obatan dan tepung terigu, dengan bahan baku alternatif yang terdapat di dalam negeri.
 
"Langkah-langkah tersebut semestinya juga sejalan dengan upaya penciptaan lapangan kerja yang sangat dibutuhkan dalam masa pemulihan ekonomi," harap CORE Indonesia.
 
Sementara itu, strategi pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga sangat vital dalam mendorong pemulihan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan pada masa mendatang. Program-program bantuan untuk UMKM semestinya tidak hanya terfokus pada aspek pembiayaan, tetapi juga dengan memperkuat pendampingan teknis, membangun keterkaitan (linkage) dengan usaha besar, dan memfasilitasi mereka untuk memperoleh akses pasar yang lebih luas, baik di pasar domestik maupun di pasar ekspor.

 
Dari sisi perdagangan internasional, strategi untuk ekspansi ekspor ke pasar-pasar baru yang non tradisional seperti ke negara-negara di kawasan Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tengah, juga perlu dipercepat. Strategi ini juga dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan dan konsentrasi ekspor pada pasar tradisional yang masih relatif tinggi.
 
"2020 ini juga memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa potensi guncangan terhadap ekonomi sangat mungkin berasal dari faktor-faktor di luar ekonomi, seperti pandemi, bencana alam, perubahan iklim, dan lain-lain. Oleh sebab itu, untuk membangun ekonomi yang lebih kokoh dan tahan guncangan dalam jangka yang lebih lama, reformasi dan transformasi dalam pembangunan ekonomi juga harus dilakukan dengan mempertimbangkan dimensi yang lebih luas, baik dimensi sosial budaya, lingkungan hidup, maupun aspek lainnya," tutup CORE Indonesia.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif