Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Sekarang Saat Tepat Investasi Saham di Tengah Korona

Ekonomi tips keuangan
Suci Sedya Utami • 07 Maret 2020 16:18
Jakarta: Banyak masyarakat awam yang baru terjun ke dalam dunia investasi bingung menentukan di mana seharusnya menginvestasikan dana di tengah kekhawatiran penyebaran virus korona (covid-19). Namun, saham jawabannya.
 
Perencana Keuangan dari OneShildt Financial Planning Budi Rahardjo mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi di portofolio saham. Mengapa? Sebab harga saham sedang jatuh dan murah. Apalagi jika rencana investasi tersebut tujuannya untuk jangka panjang, maka investor bisa meraup cuan.
 
"Kita yakin dalam jangka panjang instrumen saham masih menjanjikan," kata Budi, kepada Medcom,id, Sabtu, 7 Maret 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, saham sedang melemah karena banyak investor yang menarik dananya dari instrumen saham. Namun ini bisa jadi strategi bagi calon investor untuk menyisihkan sejumlah dana untuk menanamkan modal bagi saham tersebut. Jika suatu saat market-nya berbalik, mereka akan mendapatkan keuntungan dari investasinya.
 
Apalagi, banyak pihak yang menilai covid-19 tidak akan bertahan hingga bertahun-tahun lamanya, meskipun belum ada yang mampu memprediksi akan berapa lama wabah tersebut bertahan. Namun melihat sejarah beberapa virus sebelumnya, tidak sampai mengirim manusia di bumi untuk kembali ke zaman batu.
 
Kendati demikian, berinvestasi di saham juga dengan catatan memilih saham yang berkualitas. Budi menggarisbawahi setidaknya ada tiga unsur yang perlu dilihat saat memilih saham.
 
Pertama saham defensif yang memiliki kecenderungan tahan terhadap situasi ekonomi. Mau seperti apapun kondisinya, produknya tetap dibeli masyarakat seperti saham produk consumer goods berupa kebutuhan dasar seperti makanan, farmasi, dan alat kebutuhan sehari-hari.
 
"Makanya tidak heran akhir-akhir ini Unilever mengalami kenaikan. Kemudian saham Kalbe Farma juga sempat naik karena berkaitan dengan obat-obatan. Lalu perilaku panik masyarakat yang menimbun barang, misalnya, indomie bisa jadi meningkatkan penjualan saham Indofood," kata dia,
 
Umumnya saham defensif ini sudah terbukti dalam beberapa tahun terakhir tetap bertahan. Kedua saham yang memiliki kapitalisasi besar sehingga tidak mudah digoreng dan direkayasa. Ketiga saham perusahaan yang memiliki fundamental bagus dan sehat karena punya manajemen krisis yang baik.
 
"Umumnya produk-produknya menguasai pangsa pasar," pungkas Budi.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif