NEWSTICKER
Ilustrasi. Foto: dok MI.
Ilustrasi. Foto: dok MI.

Rupiah Terjungkal 500 Poin

Ekonomi kurs rupiah
Ade Hapsari Lestarini • 23 Maret 2020 09:32
Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini makin terjungkal di level Rp16 ribu per USD. Padahal, pada pekan lalu mata uang Garuda sudah kembali di bawah Rp15 ribu per USD.
 
Mengutip data Bloomberg, Senin, 23 Maret 2020, rupiah sudah melemah ke posisi Rp15.975 per USD dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp15.960 per USD.
 
Sementara itu rentang gerak rupiah berada di Rp15.975-Rp16.575 per USD. Hingga pukul 09.26 WIB, kurs rupiah terus beranjak melemah hingga 500 poin atau setara 3,13 persen ke posisi Rp16.460 per USD.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sedangkan mengutip data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp16.296 per USD.
 
Sebelumnya kurs dolar Amerika Serikat (USD) terpantau melemah pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), ketika enam bank sentral utama mengumumkan tindakan terkoordinasi untuk meningkatkan likuiditas dalam mata uang tersebut, tetapi melambung dari posisi terendah dalam perdagangan sore karena saham melemah.
 
Mengutip Antara, Sabtu, 21 Maret 2020, greenback telah melakukan reli yang garang minggu ini karena investor bergegas untuk mendapatkan mata uang tersebut, melonjak 4,32 persen, kenaikan mingguan terbesar sejak krisis keuangan 2008.
 
Mata uang dari dolar Australia hingga poundsterling Inggris jatuh ke posisi terendah multi-tahun setelah penurunan suku bunga oleh bank-bank sentral dan suntikan dana miliaran dolar gagal menenangkan pasar yang panik.
 
Dolar AS naik menjadi 1,03, tertinggi sejak Januari 2017, terhadap sekeranjang mata uang selama seminggu ketika investor telah melikuidasi semuanya, dari saham, obligasi hingga emas dan komoditas. Indeks dolar terakhir 102,65, turun 0,32 persen pada Jumat waktu setempat.
 
"Bagi banyak negara dengan pinjaman dalam dolar, depresiasi besar-besaran dalam mata uang domestik mereka, dan kekuatan dalam dolar, telah semakin mengancam pada saat sebagian besar pasar negara berkembang dan ekonomi maju menuju atau sudah dalam resesi," kata Analis Action Economics dalam sebuah laporan.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif