Foto: dok MI.
Foto: dok MI.

IHSG Masih Ditekan Faktor Global

Ekonomi IHSG Saham Wall Street
Annisa ayu artanti • 07 September 2020 06:59
Jakarta: Pasar saham Indonesia akan kembali tertekan pada perdagangan pekan ini. Terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal akan terjadi mengikuti tren pelemahan bursa global akibat melemahnya saham teknologi.
 
"Pasar saham masih berpeluang konsolidasi melemah akibat koreksi pada pasar saham dunia akibat koreksi saham teknologi," kata Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee dalam riset mingguannya, Senin, 7 September 2020.
 
Ia menuturkan, aksi jual di saham teknologi dipicu oleh kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi. Harga saham-saham teknologi juga dinilai terlalu tinggi sehingga peluang koreksi masih akan terjadi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami melihat saham teknologi sudah naik terlalu banyak akibat harapan perolehan keuntungan akibat dampak pandemi. Peluang koreksi saham teknologi masih mungkin berlanjut," ucapnya.
 
Hans juga menjelaskan ada beberapa faktor lain yang akan memengaruhi pergerakan indeks, yaitu angka pengangguran Amerika Serikat (AS). Meskipun angka itu sudah mengalami penurunan, namun jumlah masyarakat yang tak memiliki pekerjaan di AS masih tinggi dibandingkan Februari 2020 sebelum pandemi terjadi.

Kemudian, belum terlihat kemajuan negosiasi paket stimulus fiskal di Amerika Serikat. Menurutnya hal itu menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. "Bila terjadi kesepakatan paket stimulus akan menjadi sentimen positif untuk mendorong pasar keuangan," ucapnya.
 
Faktor lainnya, terkait alat tes untuk mendiagnosis virus covid-19 yang terlalu sensitif, membuat perkiraan penyebaran virus berlebih pada jumlah penderita.
 
Chairman Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell dan beberapa pejabat Fed juga telah menegaskan suku bunga akan tetap rendah dalam waktu beberapa tahun akibat pandemi covid-19. Hans mengatakan, perekonomian membutuhkan suku bunga rendah untuk mendukung aktivitas ekonomi untuk waktu yang panjang.
 
Sementara dari dalam negeri, Hans menyebut faktor yang bakal memengaruhi IHSG adalah data kasus covid-19 di Tanah Air. Jumlah kasus yang terus meningkat berpotensi menekan perekonomian.
 
"Pandemi covid-19 telah memukul daya beli masyarakat sehingga deman atau permintaan barang dan jasa turun. Hal ini berdampak pada peluang konsumsi masyarakat turun sehingga berpeluang membuat pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga akan kembali negatif," tuturnya.

Selain itu amendemen Undang-undang tentang Bank Indonesia menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. Dia mengatakan Bank Indonesia terancam tidak independen karena akan di bawah Menteri Keuangan. Menteri Keuangan dikabarkan akan memengaruhi kebijakan moneter yang selama ini digawangi bank Indonesia.
 
Dia menjelaskan Bank Indonesia selama ini lebih fokus pada stabilitas ekonomi dengan menjaga inflasi mendapatkan tugas tambahan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja. Belum lagi rumor pengawasan sektor keuangan tidak akan terintegrasi lagi menambah ketidakpastian pasar.
 
"Memang belum dapat dipastikan kabar ini, tetapi menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan dan membuat pelaku pasar menjadi berhati-hati," bebernya.
 
Dengan berbagai kondisi tersebut, Hans memproyeksikan IHSG bergerak terkonsolidasi dengan support di level 5.188 sampai 5.059 dan resistance di level 5.337 sampai 5.381.
 
(AHL)
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif