Ketua DK OJK Wimboh Santoso - - Foto: dok OJK
Ketua DK OJK Wimboh Santoso - - Foto: dok OJK

OJK Tak Khawatir Kinerja Industri Keuangan Nonbank Tertekan

Ekonomi OJK industri keuangan non bank (iknb) pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 16 Januari 2021 12:12
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengaku tak khawatir dengan kinerja Industri Keuangan Nonbank (IKNB) yang terkontraksi cukup dalam sepanjang 2020. Otoritas akan terus melakukan reformasi kebijakan terhadap industri tersebut agar pertumbuhannya dapat terus menggeliat di tengah pandemi covid-19.
 
"Kita tidak masalah, karena ini memang asuransi kita sangat tergantung dengan aktivitas ekonomi dan mudah-mudahan akan segera recovery. Untuk itu kami akan tetap melanjutkan reformasi di perusahaan asuransi ini," tegas Wimboh dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2021 secara virtual, Jumat, 15 Januari 2021.

 
Sepanjang 2020, kinerja intermediasi IKNB cukup tertekan dengan premi asuransi komersial mencapai Rp242,46 triliun atau terkontraksi sebesar minus 7,34 persen (yoy). Angka pertumbuhan ini anjlok cukup dalam dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya yang tumbuh positif sebesar 4,77 persen (yoy).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Demikian pula dengan kinerja piutang pembiayaan yang terkontraksi sebesar minus 17,1 persen (yoy), melorot jauh ketimbang pertumbuhan tahun 2019 sebesar 3,66 persen. Belum pulihnya perekonomian menjadi penyebab utama kinerja piutang pembiayaan terkontraksi cukup dalam di 2020.
 
Wimboh mengungkapkan di tengah tekanan tersebut, perusahaan pembiayaan turut serta meringankan beban nasabahnya yang mayoritas adalah nasabah individu atau pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

 
"Realisasi restrukturisasi pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan sepanjang 2020 telah mencapai Rp189,96 triliun dari lima juta kontrak pembiayaan atau sekitar 48,52 persen dari total pembiayaan," paparnya.
 
Meskipun demikian, profil risiko IKNB masih terjaga dalam level yang manageable. Hal ini terlihat dari permodalan lembaga yang sampai saat ini relatif terjaga pada level yang memadai.
 
Adapun Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 540 persen dan 354 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120 persen. Begitupun gearing ratio perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 2,19 persen, jauh di bawah maksimum 10 persen.

 
"Sementara itu, di tengah berbagai upaya meredam dampak pandemi ini terhadap kinerja IKNB, kami tetap menjalankan agenda reformasi IKNB secara bertahap dengan mempertimbangkan dampak pro-cyclical terhadap perekonomian. Pada 2020 telah dikeluarkan berbagai kebijakan mengenai risk management dan good corporate governance," pungkas Wimboh.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif