Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

Satgas Waspada Investasi: Boleh Pinjam Uang di Pinjol, Asal...

Ekonomi OJK tips keuangan Fintech Pinjaman Online
Husen Miftahudin • 11 Juni 2021 11:17
Jakarta: Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam Lumban Tobing mengingatkan masyarakat untuk meminjam uang hanya di platform fintech peer to peer lending alias pinjaman online (pinjol) yang terdaftar dan berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bila tidak terdaftar dan berizin, sudah bisa dipastikan bahwa pinjol tersebut ilegal.
 
Selain mengenakan bunga tinggi dan jangka waktu pinjaman pendek, pinjol ilegal juga akan meminta akses semua data kontak di ponsel nasabah. Parahnya lagi, data kontak tersebut akan digunakan pinjol ilegal untuk mengintimidasi saat penagihan.
 
Terkait legalitas platform pinjol, Tongam menjelaskan bahwa perusahaan penyelenggara fintech peer to peer lending yang terdaftar atau berizin wajib mengikuti ketentuan dari OJK. Di antaranya, aplikasi pinjol tersebut hanya diperbolehkan untuk dapat mengakses kamera, mikrofon, dan lokasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kontak yang diberikan kepada penyelenggara fintech peer to peer lending (legal) adalah kontak darurat yang disampaikan oleh pengguna kepada penyelenggara. Sehingga, fintech peer to peer lending yang terdaftar atau berizin di OJK tidak dapat mengakses kontak ataupun storage handphone," ujar Tongam kepada Medcom.id, Jumat, 11 Juni 2021
 
Di samping itu, ada Pedoman Perilaku yang ditentukan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) yang menaungi perusahaan penyelenggara fintech peer to peer lending yang terdaftar atau berizin di OJK, di antaranya terkait penetapan jumlah total biaya pinjaman yang tidak melebihi suku bunga flat 0,8 persen per hari.
 
Kemudian penetapan biaya keterlambatan dan seluruh biaya-biaya lainnya maksimal 100 persen dari nilai prinsipal pinjaman. Lalu, larangan predatory lending atau praktik pemberian pinjaman yang mengenakan syarat, ketentuan, bunga, dan/atau biaya-biaya yang tidak wajar bagi penerima pinjaman.
 
Soal jangka waktu pinjaman bisa beragam, tergantung pengguna aplikasi. Untuk itu, pengguna aplikasi perlu memahami syarat dan ketentuan pengguna serta perjanjian pinjaman yang telah disepakati.
 
"Pemberi pinjaman juga harus memahami bahwa risiko gagal bayar maupun keterlambatan yang bukan disebabkan oleh kegagalan sistem penyelenggara fintech lending, sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari pemberi pinjaman," tutup Tongam.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif