Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

5 Kasus Pembobolan Bank Terbesar di Indonesia

Ekonomi Perbankan Maria Pauline Lumowa
Ade Hapsari Lestarini • 10 Juli 2020 06:07
Jakarta: Nama Maria Pauline Lumowa kembali mencuat. Penangkapannya pun menggegerkan masyarakat Indonesia. Maklum, Maria sudah buron selama 17 tahun.
 
Namun, Maria bukan satu-satunya pembobol dana perbankan terbesar di Indonesia. Ada pula Inong Malinda Dee, yang terlibat dalam kasus pencucian dan penggelapan dana nasabah Citibank.
 
Berikut adalah lima kasus pembobolan bank terbesar di Indonesia yang dirangkum Medcom.id, Jumat, 10 Juli 2020.

Citibank

Inong Malinda Dee, Senior Relationship Manager Citibank pada era 2010 itu harus berurusan dengan pihak berwajib. Pasalnya, dia membobol dana nasabah private bank Citibank.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat itu, Malinda Dee memegang 236 nasabah. Namun, salah satu nasabah kakap, Surjati T Budiman, merasa ada transaksi yang janggal dalam rekeningnya. Total, dia menggelapkan dana nasabah hingga mencapai Rp17 miliar. Malinda pun ditahan pada 24 Maret 2011.

Bank Mega

Bank milik taipan Chairul Tanjung ini juga mengalami kebobolan. Bekas Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, Cikarang, Bekasi, Itman Harry Basuki terlibat dalam korupsi dana Rp111 miliar milik PT Elnusa Tbk yang didepositokan di Bank Mega Jababeka, Cikarang. Itman pun dihukum enam tahun penjara pada 14 Februari 2012.
 
Pada 2015, Elnusa sempat mengeluhkan permasalahan deposito on call yang belum dibayar Bank Mega itu tak kunjung dilunasi. Pihak OJK pun sudah meminta Bank Mega untuk segera mencairkan escrow account sebesar Rp111 miliar.

Bank Bali

Djoko Tjandra, buronan kasus dugaan korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali sebesar Rp798 miliar masih buron. Negara sudah dirugikan sekitar Rp904 miliar karena pencairan tanpa prosedur yang jelas dari Bank Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) ke Bank Bali.
 
Kejaksaan pernah menahan Djoko pada 29 September 1999 hingga Agustus 2000. Namun, hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan ia bebas dari tuntutan karena perbuatannya bukan pidana melainkan perdata.
 
Kejaksaan mengajukan PK terhadap kasus Djoko ke Mahkamah Agung pada Oktober 2008. Majelis hakim memberi vonis dua tahun penjara dan harus membayar Rp15 juta untuk Djoko. Uang milik Djoko di Bank Bali Rp546,166 miliar dirampas negara. Imigrasi juga mencegah Djoko.
 
Djoko kabur dari Indonesia ke Port Moresby, Papua Nugini, pada 10 Juni 2009. Tepat sehari sebelum MA mengeluarkan putusan perkara. Kejaksaan kemudian menetapkan Djoko sebagai buronan.

Bank Century

Jumlah kerugian dari kasus Bank Century mencapai Rp6,8 triliun. Kerugian tersebut terdiri pemberian fasilitas kredit Rp1,2 triliun, letter of credit (L/C) Rp1,7 miliar, penggelapan bank note Rp196 miliar, operasional fiktif Rp227 miliar. Masih ditambah masalah pajak dan lainnya yang harus ditanggung bank sebesar Rp306 miliar.
 
Sementara kerugian yang diakibatkan pemegang saham Bank Century Rafat Ali Rizvi dan Hesam Al Warraq sebesar Rp3 triliun atas pengelolaan surat-surat berharga Bank Century yang bernilai sangat rendah hingga tak bisa menolong likuiditas Bank Century.
 
Robert Tantular menjadi "tokoh" utama dalam kasus ini. Selain sebagai bos Bank Century, Robert Tantular juga memiliki saham di perusahaan itu. Kasus ini sempat membuat geger pada 2008 silam.

Kasus BLBI

Pada Desember 1998, Bank Indonesia (BI) menyalurkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp147,7 triliun. Dalam kasus ini, ada indikasi penyimpangan sebesar Rp138 triliun.
 
BLBI merupakan skema bantuan (pinjaman) yang diberikan BI kepada bank-bank yang mengalami masalah likuiditas pada saat terjadinya krisis moneter 1998 di Indonesia. Skema ini dilakukan berdasarkan perjanjian Indonesia dengan IMF dalam mengatasi masalah krisis.
 

(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif