Ilustrasi. FOTO: Medcom.id/Angga Bratadharma
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id/Angga Bratadharma

Waspada! IHSG Berpotensi Bergerak Labil Hari Ini

Ekonomi IHSG Pasar Modal IHSG Terkonsolidasi IHSG Melemah IHSG Menguat
Angga Bratadharma • 26 April 2022 09:01
Jakarta: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan sideways. Sejauh ini belum ada sentimen positif signifikan yang bisa memperkokoh indeks bertahan di area hijau sejalan dengan aksi ambil untung yang dilakukan investor usai beberapa waktu terus mencapai All Time High (ATH).
 
"Jadwal rilis data ekonomi Indonesia besok yakni foreign direct investment kuartal pertama. IHSG kami perkirakan cenderung bergerak sideways hari ini seiring sentimen global dan beberapa harga komoditas bergerak agak bervariasi," sebut Samuel Research Team, dalam riset hariannya, Selasa, 26 April 2022.
 
Terjadi penambahan 317 kasus baru covid-19 pada Senin, 25 April, dengan positivity rate sebesar 0,4 persen (kasus aktif: 13.251). Sebanyak 4,664 pasien telah sembuh dengan recovery rate sebesar 97,2 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berakhir lebih tinggi pada akhir perdagangan perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB), didukung oleh reli nama-nama teknologi. Namun, para investor terus memantau rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunga 50 basis poin pada pertemuan berikutnya.
 
Indeks Dow Jones Industrial Average naik sebanyak 238,06 poin atau 0,70 persen menjadi 34.049,46. Sedangkan indeks S&P 500 menguat 24,34 poin atau 0,57 persen, menjadi 4.296,12. Kemudian indeks Komposit Nasdaq naik 165,56 poin atau 1,29 persen menjadi 13.004,85.
 
Sebanyak enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di area hijau, dengan sektor layanan komunikasi dan teknologi masing-masing naik 1,53 persen dan 1,44 persen, melampaui yang lainnya. Sedangkan sektor energi jatuh 3,34 persen, kelompok berkinerja terburuk.
 
Meskipun pada awal pekan mengalami reli, namun analis memperingatkan volatilitas pasar kemungkinan berlanjut di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang laju pengetatan moneter. The Fed bakal lebih agresif guna memerangi ledakan inflasi yang sampai saat ini belum ada tanda mereda.
 
Ketua Federal Reserve Jerome Powell pekan lalu menegaskan tekad bank sentral AS untuk menurunkan inflasi dan menunjukkan adanya kenaikan 50 basis poin di atas meja pada pertemuan kebijakan Mei.
 
"Dengan The Fed berbicara keras tentang inflasi yang terus-menerus, kekhawatiran tentang resesi yang diinduksi Fed akan tetap tinggi sampai data menawarkan dukungan yang jelas untuk memoderasi inflasi," pungkas Kepala Investasi UBS Global Wealth Management Mark Haefele.

 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif