Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

6 Tips Perencanaan Keuangan yang Tepat untuk Pekerja Lepas

Ekonomi Virus Korona tips keuangan tips berinvestasi
Angga Bratadharma • 29 Oktober 2020 11:33
Jakarta: Menjadi pekerja lepas atau freelancer tentu memiliki banyak keuntungan. Utamanya tentu saja soal waktu maupun tempat kerja yang lebih fleksibel, selama mereka bisa memenuhi kewajiban pekerjaan dari klien sesuai tenggat waktu yang ditentukan.
 
Namun, ada beberapa tantangan finansial yang tentu harus dihadapi para pekerja freelance. Tantangan-tantangan tersebut, apalagi kalau bukan masalah perencanaan keuangan, karena penghasilan para pekerja freelance tidak tetap, dan risiko kehilangan pendapatan juga cukup tinggi.
 
Seperti yang tercantum di situs Financial Planning Standards Boards Indonesia, perencanaan keuangan bisa diartikan sebagai proses untuk mencapai tujuan hidup seseorang melalui pengelolaan keuangan secara terintegrasi dan terencana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tujuan finansial yang dimaksud tentu saja meliputi banyak hal. Bisa berupa persiapan dana pendidikan bagi anak, dana hari tua bagi freelancer dan pasangan hidupnya, dana untuk membeli rumah, warisan bagi keluarga, dana untuk beribadah haji dan persiapan dana lain-lainya.
 
Pada intinya, mereka yang digolongkan sebagai freelancer bisa jadi memiliki profesi yang beragam. Seniman, dokter, konsultan, atlet, hingga influencer di media sosial bisa dikatakan sebagai pekerja lepas.
 
Mengutip Lifepal, Kamis, 29 Oktober 2020, berikut tips perencanaan keuangan yang ideal bagi para pekerja freelance. Pertama, usahakan pengeluaran selalu tetap. Pendapatan para freelancer mungkin tidak tetap, namun usahakan dengan baik agar memiliki rata-rata pengeluaran yang bersifat tetap.
 
Kedua, lakukan perencanaan pajak dengan baik. Pekerja freelance bukan pegawai. Mereka sendiri yang harus mencatat seluruh pendapatan yang diterima selama setahun. Ada beberapa cara yang bisa dimanfaatkan para pekerja freelance untuk menghitung pajaknya.
 
Ketiga, walau lajang dan tak ada tanggungan tetap miliki dana darurat minimal enam kali pengeluaran per bulan. Meski penghasilan seorang pekerja freelance tergolong besar, namun sebagai pekerja freelance, potensi risiko hilangnya pendapatan tentu lebih besar ketimbang para karyawan kantoran. Ada baiknya untuk menyediakan dana darurat lebih besar.
 
Keempat, jaminan kesehatan harus ada. Riset dari Willis Tower Watson menyebutkan bahwa kenaikan biaya kesehatan di Indonesia mencapai 10 persen per tahun. Kelima, gunakan pendekatan pengeluaran untuk memilih asuransi jiwa. Jika memiliki tanggungan atau utang, maka pastikan terlindungi dengan asuransi jiwa.
 
Keenam, investasikan dana ke instrumen pendapatan tetap dan instrumen pertumbuhan. Jika dilihat dari imbal hasilnya, investasi dibedakan menjadi dua yaitu yang bisa memberikan pendapatan tetap berupa pembayaran imbal hasil pasti yaitu bunga rutin per bulan, dan instrumen pertumbuhan yang tak memberikan bunga tapi memberikan capital gain ketika dijual lagi.
 
Instrumen pendapatan tetap seperti deposito atau surat berharga negara maupun korporasi, sangat berguna untuk menjaga kesehatan arus kas bulanan pekerja freelance. Karena, bunga yang dibayarkan dari instrumen itu akan menjadi pendapatan pasif yang tentunya menambah jumlah pemasukan per bulan.
 
Instrumen pertumbuhan seperti reksa dana, saham, atau logam mulia, berguna untuk memenuhi kebutuhan finansial pekerja freelance dalam jangka pendek, menengah, atau panjang, seperti untuk membeli rumah, menyelenggarakan pesta pernikahan, mempersiapkan kebutuhan anak yang akan lahir, atau biaya pendidikan anak, hingga menyediakan dana pensiun.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif