Ilustrasi OJK - - Foto: Antara/ Aditya
Ilustrasi OJK - - Foto: Antara/ Aditya

OJK: Banyak Kendala dalam Restrukturisasi Kredit Covid-19

Ekonomi ojk kredit
Husen Miftahudin • 19 Mei 2020 17:18
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui banyak kendala dalam mengimplementasikan restrukturisasi kredit nasabah terdampak virus korona (covid-19). Apalagi, lembaga jasa dalam keuangan tersebut harus tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko dalam menerapkan program restrukturisasi kredit.
 
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menjabarkan berbagai kendala realisasi restrukturisasi kredit yang belum optimal. Di antaranya kesulitan untuk tatap muka, verifikasi data, dan pengkinian kondisi debitur akibat penerapansocial distancingdan pembatasan akses di beberapa wilayah.
 
"Tentunya dengan kerja di rumah ini lembaga jasa keuangan kesulitan untuk tatap muka, verifikasi data, dan pengkinian kondisi debitur dalam mengimplementasikan restrukturisasi," ujar Heru dalam diskusi daring Lembaga Perkembangan Perbankan Indonesia (LPPI) di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, restrukturisasi debitur secara bulk untuk yang bersifatmass product.Proses restrukturisasi juga harus dilakukan oleh pejabat atau pegawai yang tidak terlibat dalam kredit restrukturisasi sehingga berpotensi menghambat proses percepatan stimulus.
 
Selanjutnya persetujuan restrukturisasi harus naik satu tingkat menimbulkanbottleneckdalam proses restrukturisasi. Beberapa fungsi operasional bahkan tidak dapat dilakukan melalui sistem kerja dari rumah (work from home), sehingga dilakukan mekanismesplit office.
 
"Tantangan dari industri juga masih berpedoman pada standar operasional prosedur (SOP) lama, sehingga cenderung memakan waktu dan birokrasi," urai Heru.
 
Heru memahami upaya perbankan dalam mengimplementasi program restrukturisasi butuh satu keranjang. Ini dimaksudkan agar penyelenggara restrukturisasi tidak kewalahan saat melakukan asesmen kredit debitur secara satu-satu, sementara jumlah pemohon keringanan kredit bisa mencapai ribuan debitur.

 
"Mereka bisa (melakukan asesmen) dalam satu keranjang, tapi kita tekankan untuk tetap berhati-hati. Tentunya nanti kita akan melakukan audit bahwa apa yang dilakukan (penyelenggara program restrukturisasi) itu betul atau tidak," tutup Heru.
 

(Des)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif