OJK. Foto : MI/Ramdani.
OJK. Foto : MI/Ramdani.

Tabungan Masyarakat di Bank Melimpah, OJK Ingatkan Hati-hati Berinvestasi

Ekonomi OJK Perbankan investasi pajak deposito dan tabungan Pemulihan Ekonomi Nasional vaksin covid-19
Husen Miftahudin • 04 Agustus 2021 19:40
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut pandemi covid-19 yang berdampak pada terbatasnya kegiatan mobilitas dan sosial ekonomi membuat tabungan masyarakat di perbankan jadi melimpah. Kondisi itu ditambah lagi dengan langkah pemerintah yang menyalurkan anggaran fiskal ke masyarakat sebagai bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
 
"Bagi masyarakat yang pendapatannya tetap, ini tidak sempat membelanjakan, sehingga tabungannya pasti meningkat. Kemudian stimulus fiskal yang luar biasa dengan alokasi 2020 sebesar Rp695,2 triliun dan Rp744,75 triliun pada 2021 untuk PEN juga pasti menambah uang beredar di masyarakat dan juga menambah dana masyarakat di perbankan," ucap Wimboh dalam acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It) secara virtual, dikutip Rabu, 4 Agustus 2021.
 
Lebih detail, Wimboh membeberkan bengkaknya dana masyarakat di perbankan. Pada Juni 2021, dana masyarakat di perbankan tumbuh sebesar 11,28 persen (yoy). Angka ini jauh melebihi rata-rata pertumbuhan tahunan di kisaran enam persen hingga tujuh persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini menandakan bahwa likuiditas perbankan melimpah, sehingga tidak heran jika suku bunga simpanan mengalami penurunan. Biasanya deposito berjangka satu tahun ada di atas 7,0 persen atau 6,5 persen, namun sekarang ini turun menjadi sekitar lima persen.
 
"Bahkan ada beberapa bank yang menawarkan di bawah empat persen. Ini menandakan bahwa masyarakat simpanannya naik, tapi bunganya turun, sehingga bagi hasilnya turun," tuturnya.
 
Di sisi lain, bengkaknya dana masyarakat di bank membuat mereka mencari alternatif investasi guna meningkatkan cuan. Dalam hal ini, Wimboh mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam memilih investasi yang memiliki imbal hasil tinggi.
 
Pasar modal, aset kripto, dan alternatif investasi lain yang menawarkan imbal hasil tinggi harus dicermati secara baik. Sebab, investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi juga memiliki risiko yang tinggi pula.
 
"Aset-aset lain termasuk aset kripto, itu beberapa advisor menawarkan return yang tinggi. Ini masyarakat harus paham dan harus hati-hati, jangan sampai hanya tertarik dengan pendapatan yang tinggi," pesannya.
 
Ia juga mengingatkan agar hati-hati dalam memilih instrumen investasi di pasar modal. Pasalnya, jika hukum supply dan demand tidak seimbang (balance), maka akan menimbulkan bubble.
 
"Bubble ini bisa menimbulkan volatile harga di pasar modal, dan jadi sangat berpotensi untuk menjadi spekulasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," ucap dia.
 
"Namun di sisi lain, ini juga berkah bagi pasar modal karena jumlah investor ritel di pasar modal meningkat luar biasa yaitu 5,6 juta atau 96 persen (yoy) pada Juni kemarin. Ini karena masyarakat tadi, yang dananya di perbankan cukup tinggi tapi bunganya turun terus sehingga mencari alternatif di pasar modal," pungkas Wimboh.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif