Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.

Pertumbuhan Kredit Diprediksi Negatif Imbas Covid-19

Ekonomi perbankan kredit
Eko Nordiansyah • 10 April 2020 19:34
Jakarta: Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini bisa negatif. Kondisi ini sebagai dampak penyebaran virus korona (covid-19) terhadap kinerja industri perbankan.
 
Menurut Aviliani, bank belum akan menyalurkan kredit baru untuk tahun ini melihat situasi seperti sekarang. Sementara di sisi lain bank harus melakukan restrukturisasi terhadap debitur yang mengalami kesulitan akibat covid-19.
 
"Kemungkinan kredit itu tumbuhnnya turun drastis atau malah negatif. Artinya apa ada orang bayar utang tapi enggak ada orang pinjam lagi," kata dia dalam Indef Talks, di Jakarta, Jumat, 10 April 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aviliani menambahkan saat ini bank tengah melakukan perhitungan jika kredit tidak bertambah, maka berapa besar likuiditas yang dibutuhkan. Sementara dengan restrukturisasi maka pendapatan bank juga diprediksi bakal berkurang.
 
"Pastinya bank butuh likuiditas, kenapa? Untuk bayar gaji, untuk bayar bunga dan lain-lain. Tapi di sisi lain dia pendapatannya turun drastis. Nah ini juga semua bank sudah mulai menghitung kapasitas mereka dan mendapat uang dari sumber mana," jelas dia.
 
Dalam kondisi normal, bank bisa melakukan assesment dengan melihat kondisi nasabahnya. Sementara dengan pembatasan aktivitas seperti sekarang ini bank 'dipaksa' harus melihat profil debiturnya melalui laporan keuangan yang selama ini disampaikan.
 
"Dari sisi laporan keuangan, dulu lapangan keuangan seperti apa tapi dalam rangka satu bulan ini mengalami penurunan sehingga mereka tidak bisa memenuhi kewajibannya. Maka apabila itu terjadi bank akan memberikan restrukturisasi," ungkap dia.
 
Meski begitu proses restrukturisasi kepada debitur dihitung berdasarkan kemampuannya menyelesaikan kewajibannya. Aviliani menyebut tidak bisa semua debitur disamakan dengan memberi restrukturisasi selama setahun penuh.
 
"Jadi bank akan meng-assesment debitur satu-satu yang ini cukup enam bulan, yang ini satu tahun. Makanya harus bisa menghitung benar-benar. Di sini gunanya perusahaan kecil atau nasabah benar-benar menghitung bagaimana memulihkan, berapa lama recovery, supaya tidak salah dalam meminta restrukturisasi," pungkasnya.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif