Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Foto : MI.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Foto : MI.

OJK Siap Perpanjang Program Restrukturisasi

Ekonomi Perbankan
Husen Miftahudin • 05 Agustus 2020 20:06
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kesiapannya untuk memperpanjang program restrukturisasi kredit. Perpanjangan ini diperlukan untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada sektor usaha untuk bangkit di tengah perlambatan ekonomi imbas wabah pandemi covid-19.
 
"Kami juga melihat bahwa perpanjangan ini diperlukan karena berbagai perusahaan sampai dengan berakhirnya POJK 11 ini masih memerlukan waktu lagi untuk recover lebih lanjut," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam telekonferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Rabu, 5 Agustus 2020.
 
Kebijakan restrukturisasi kredit tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019. Dalam ketentuan ini perbankan dapat menerapkan kebijakan stimulus kepada debitur terdampak covid-19, berlaku sejak 13 Maret 2020 sampai dengan 31 Maret 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun mekanisme restrukturisasi kredit dilaksanakan berdasarkan penilaian kualitas aset. Antara lain dengan penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu, dan pengurangan tunggakan pokok. Keringanan juga dapat berupa pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit/pembiayaan, dan konversi kredit/pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara.
 
Perpanjangan jangka waktu program restrukturisasi diusulkan industri perbankan seiring meningkatnya pengajuan restrukturisasi kredit pada segmen non-usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jangka waktu kebijakan restrukturisasi kredit diminta diperpanjang selama satu tahun. Bila disetujui, maka jangka waktu kebijakan restrukturisasi kredit akan berlangsung hingga 31 Maret 2022.
 
Di sisi lain, Wimboh menyebut sektor riil berhasil melalui fase survival, dan saat ini masuk pada fase pemulihan (recovery). Terkait hal ini OJK dalam kerangka KSSK melakukan upaya dan sinergi dari berbagai kebijakan, baik dari sisi fiskal oleh pemerintah, moneter oleh Bank Indonesia, OJK, serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
 
"Sehingga akan senantiasa mengoptimalkan berbagai kebijakan yang telah diberikan dan dikeluarkan. Kami juga masih melihat peluang, terutama bagaimana kebijakan-kebijakan di OJK ke depan. Apabila diperlukan, masih terbuka luas untuk bisa kita lakukan dan kita bisa perbesar dalam rangka mendukung percepatan recovery ini," pungkas Wimboh.
 
(SAW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif