Foto: dok MI.
Foto: dok MI.

Waspada! Rupiah Bisa Bergerak ke Rp14.600/USD

Ekonomi rupiah melemah Kurs Rupiah
Husen Miftahudin • 09 Juli 2021 06:24
Jakarta: Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan melemah. Kendati demikian, mata uang Garuda ini ditaksir akan dibuka fluktuatif.
 
"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp14.510 per USD hingga Rp14.600 per USD," jelas Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan resminya, Jumat, 9 Juli 2021.
 
Dia sebelumnya menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah terus tertekan imbas negatifnya data-data ekonomi domestik. Teranyar, Indonesia dicap sebagai negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income) oleh Bank Dunia akibat belum tertanganinya lonjakan pandemi covid-19 sampai saat ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Gross National Income (GNI) atau pendapatan nasional bruto Indonesia saat ini sebesar USD3.979 per kapita. Artinya, Indonesia turun satu 'kasta' setelah 2019 lalu Indonesia berperingkat sebagai negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income)," ungkap Ibrahim.
 
Ibrahim mengungkapkan, pandemi covid-19 pada 2020 telah membuat perekonomian Indonesia luluh lantak. Ekonomi Indonesia pada tahun lalu mengalami kontraksi pertumbuhan sebanyak 2,07 persen dibandingkan 2019. Realisasi tersebut merupakan kontraksi terparah sejak 1998.
 
Kendati demikian, pemerintah optimistis Indonesia bisa kembali menjadi negara berpendapatan kelas menengah ke atas apabila pandemi covid-19 sudah berakhir. "Ini perlu kerja sama antarlembaga, baik pemerintah maupun masyarakat guna menghentikan lonjakan penyakit covid-19 serta dibarengi dengan vaksinasi massal," tegasnya.
 
Sementara dari faktor eksternal, dolar diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam tiga bulan versus mata uang utama setelah risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve. Hal tersebut mengkonfirmasi bank sentral terbesar dunia itu untuk bergerak menuju pengurangan pembelian asetnya segera setelah tahun ini.
 
Pejabat Fed mengatakan kemajuan substansial lebih lanjut pada pemulihan ekonomi umumnya dipandang belum terpenuhi, meskipun para peserta memperkirakan kemajuan akan berlanjut dan setuju bahwa mereka harus siap untuk bertindak jika inflasi atau risiko lain terwujud.
 
"Berbagai peserta pada sesi itu masih merasa kondisi untuk membatasi pembelian obligasi yang memasok pasar dengan uang tunai akan terpenuhi lebih awal dari yang mereka perkirakan. Sementara yang lain melihat sinyal yang kurang jelas dari data yang masuk," jelas Ibrahim.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif