Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO

Pembukaan Pasar: Rupiah Menguat ke Rp14.322/USD

Ekonomi Kurs Rupiah
Angga Bratadharma • 03 Maret 2021 09:47
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terlihat menguat tipis ketimbang hari sebelumnya yang berada di level Rp14.325 per USD. Mata uang Garuda berhasil menghantam mata uang Paman Sam yang tengah mendapat katalis negatif berupa terhentinya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).
 
Mengutip Bloomberg, Rabu, 3 Maret 2021, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menguat ke posisi Rp14.322 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.315 hingga Rp14.325 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.129 per USD.
 
Sementara itu, dolar Amerika Serikat merosot terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Tekanan terjadi saat kenaikan pesat imbal hasil obligasi terhenti dan mata uang berisiko termasuk dolar Australia naik karena saham-saham AS stabil, mencerminkan meningkatnya sentimen risiko.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Greenback telah menjadi penerima manfaat dari volatilitas saham baru-baru ini, yang diguncang pekan lalu oleh lonjakan dramatis dalam imbal hasil surat utang pemerintah AS. Obligasi Pemerintah AS telah stabil minggu ini, dengan imbal hasil patokan bertahan di bawah tertinggi minggu lalu, membantu memulihkan ketenangan pasar.
 
"Pada Selasa, 2 Maret, Wall Street sebagian besar mempertahankan kenaikan tajam Senin waktu setempat yang membantu mata uang AS mengurangi penurunan di sesi NY," kata Direktur Pelaksana dan Analisis Mata Uang Global Action Economics Ronald Simpson.
 
Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,31 persen menjadi 90,731, setelah sebelumnya mencapai tertinggi tiga minggu di 91,396. Euro menguat 0,36 persen menjadi USD1,2092.
 
Kenaikan imbal hasil terjadi ketika para peserta khawatir bahwa pemulihan ekonomi dari dampak pandemi covid-19, dikombinasikan dengan stimulus fiskal, akan menyebabkan lonjakan inflasi dan kemungkinan pengetatan yang lebih cepat dari Federal Reserve. Volatilitas juga mendorong greenback karena investor membatalkan posisi jual dalam mata uang.
 
"Jika anda melihat volatilitas, kecenderungan alami adalah menghindari risiko; dalam hal ini pada dasarnya berarti keluar dari posisi-posisi yang ada, dan posisi jual dolar sangat tinggi pada saat ini," kata Kepala Strategi Valas Amerika Utara CIBC Capital Markets Bipan Rai, di Toronto.
 
Posisi jual dolar AS mencapai USD29,33 miliar pada pekan yang berakhir 23 Februari, menurut data dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas. Mata uang berisiko termasuk dolar Australia terus bangkit dari aksi jual minggu lalu, dengan Aussie menguat setelah bank sentralnya berkomitmen mempertahankan suku bunga pada posisi terendah dalam sejarah.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif