Investasi. Foto : Medcom.id.
Investasi. Foto : Medcom.id.

Strategi Diversifikasi untuk Cuan, Maksimal di Reksa Dana Campuran

Ekonomi IHSG reksa dana Pasar Modal
Husen Miftahudin • 21 April 2021 11:10
Jakarta: Beberapa hari ini volatilitas di pasar saham amat terasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat terkoreksi mendekati level 5.800, imbas sentimen negatif investor global terkait ekspektasi inflasi Amerika Serikat (AS) yang melebihi perkiraan. Meskipun demikian, pasar akhirnya mulai bangkit dan IHSG kembali bertengger di atas level 6.000.
 
Di tengah volatilitas, manajer investasi harus jeli dalam melihat kondisi pasar, perlu fleksibilitas dalam melakukan diversifikasi. Pada kondisi ini, maka reksa dana campuran (balance fund) menjadi produk investasi yang diunggulkan.
 
Selain itu, pada reksa dana campuran, investor sudah mendapatkan diversifikasi ke dalam tiga jenis instrumen di dalam satu produk. Semuanya sudah diatur oleh manajer investasi. Jadi, reksa dana campuran merupakan opsi diversifikasi yang lebih praktis bagi investor.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Fleksibilitas ini berbeda dengan jenis reksa dana lain yang memiliki ketentuan minimum untuk berinvestasi pada instrumen sesuai dengan jenis reksa dananya. Akibatnya, fleksibilitas manajer investasi menjadi berkurang dan jadi salah satu penyebab mengapa banyak reksa dana sulit mengalahkan indeks," ucap Presiden Direktur Syailendra Capital Fajar R Hidayat, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 21 April 2021.
 
Fajar mengungkapkan bahwa dalam menyikapi volatilitas pasar, manajer investasi melihat adanya kebutuhan diversifikasi aset, sehingga investor dapat terlindungi ketika terjadi volatilitas yang tinggi pada pasar saham. Diversifikasi kelas aset terbukti memberikan kinerja yang lebih baik dibanding investasi pada saham (LQ45).
 
"Kami melakukan simulasi portofolio yang terdiversifikasi selama sepuluh tahun terakhir. Terlepas dari besar porsi yang dialokasikan pada ekuitas, obligasi, dan pasar uang, ketiga skenario memberikan kinerja di atas indeks saham maupun deposito," papar Fajar.
 
Dengan langkah tersebut, reksa dana campuran Syailendra mencetak hasil mentereng. Syailendra Balance Opportunity Fund misalnya, per 16 April 2021, yield tiga bulan reksa dana ini mencapai 17,7 persen, untuk enam bulan mencapai 17,58 persen, dan untuk yield setahun terakhir turun sekitar 6,92 persen.
 
"Tapi masih lebih bagus dibandingkan reksa dana lain yang minus. Jika sejak diterbitkan, reksa dana ini mencetak yield 166,2 persen," urainya.
 
Adapun Syailendra Balance Opportunity Fund menempatkan portofolio di saham sebanyak 71,7 persen. Sedangkan sisanya di corporate bond 13,3 persen dan pasar uang sebanyak 15 persen.
 
Fajar bilang, reksa dana campuran memiliki alokasi seimbang pada setiap instrumen baik itu saham, obligasi, maupun pasar uang. Walhasil, manajer investasi bisa leluasa mengatur alokasi instrumen dengan lebih fleksibel. Misalnya ketika pasar saham sedang bullish, maka sebagian besar dana akan ditempatkan ke saham atau obligasi. Begitupun sebaliknya.
 
"Dengan fleksibilitas yang bisa dilakukan oleh manajer investasi pada reksa dana campuran, maka manajer investasi bisa mengatur strategi yang lebih fleksibel agar performa reksa dana bisa mengalahkan indeks acuan. Artinya, manajer investasi bisa mengubah strategi alokasi instrumen dengan aktif sesuai perkembangan pasar," pungkas Fajar.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif