Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Kurs Rupiah Pagi Tak Bertenaga di Rp15.022/USD

Angga Bratadharma • 06 Juli 2022 09:38
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terpantau melemah ketimbang penutupan perdagangan di hari sebelumnya di posisi Rp14.993 per USD. Mata uang Garuda kesulitan menguat sejalan dengan agresifnya The Fed menaikkan suku bunga untuk meredam lonjakan inflasi di Amerika Serikat (AS).
 
Mengutip Bloomberg, Rabu, 6 Juli 2022, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan di posisi Rp15.022 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.995 hingga Rp15.024 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.958 per USD.
 
Sementara itu, permintaan safe-haven memperkuat dolar ke level yang terakhir terlihat pada 2002 pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Sedangkan euro merosot ke posisi terendah dua dekade karena lonjakan terbaru harga gas Eropa memicu kekhawatiran resesi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks dolar melonjak 1,6 persen pada satu titik dan euro turun sebanyak 1,75 persen ke posisi terendah yang terakhir terlihat pada akhir 2002. Itu adalah penurunan satu hari terbesar untuk euro dan kenaikan satu hari terbesar dolar sejak covid-19 mengguncang pasar pada Maret 2020.
Baca: Siap-siap, Vaksin Booster Bakal Jadi Syarat Mobilitas!

Mata uang lainnya juga jatuh karena kekhawatiran resesi melemahkan saham-saham di Eropa dan di Wall Street. Yen Jepang mendekati posisi terendah 24 tahun lagi, dolar Kanada jatuh ke posisi terendah hampir 19 bulan dan krona Norwegia jatuh lebih dari 2,0 persen karena pekerja gas mogok, menambah kekhawatiran pertumbuhan Eropa.
 
Risiko Eropa tergelincir ke dalam resesi meningkat setelah lonjakan harga gas alam sebesar 17 persen di Eropa dan Inggris tampaknya akan mendorong inflasi lebih tinggi lagi.
 
Kekhawatiran tentang bagaimana bank sentral Eropa (ECB) akan bereaksi mengikis sentimen setelah Kepala Bundesbank Jerman Joachim Nagel mengecam rencana ECB untuk mencoba melindungi negara-negara berutang tinggi dari lonjakan suku bunga pinjaman.
 
Kepala Strategi Valas Amerika Utara CIBC Capital Markets Bipan Rai mengatakan sentimen penghindaran risiko berlaku di pasar karena krisis energi membayangi di Eropa. "Ancaman resesi di zona euro adalah risiko yang lebih jelas sekarang dibandingkan dengan sebelumnya," pungkas Rai.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif