Ilustrasi Bank Indonesia - - Foto: Antara/ Rosa Panggabean
Ilustrasi Bank Indonesia - - Foto: Antara/ Rosa Panggabean

Posisi Suku Bunga BI Berada di Level Terendah

Ekonomi Bank Indonesia suku bunga
Media Indonesia • 18 Juli 2020 15:00
Jakarta: Pengamat ekonomi Piter Abdullah mengatakan suku bunga acuan Bank Indonesia berada di posisi terendah yang pernah terjadi di Indonesia. Langkah progresif tersebut akan mendorong pemulihan ekonomi imbas pandemi covid-19.
 
Namun, suku bunga rendah ini tidak bisa dinikmati secara langsung lantaran penurunan bunga acuan tidak serta merta diikuti oleh penurunan suku bunga kredit.
 
“Karakteristik sektor keuangan kita yang sedikit berbeda dengan sektor keuangan di luar negeri menyebabkan suku bunga kredit cenderung ri­gid ketika suku bunga acuan turun,” ujar Piter dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 18 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Piter menambahkan penurunan suku bunga acuan juga tidak bisa langsung mendorong penyaluran kredit karena masih terbatasnya aktivitas ekonomi dan permintaan kredit.

 
Di sisi lain, Bank Indonesia mendorong perbankan untuk mempercepat realisasi penurunan bunga kredit karena bank sentral ini sudah menurunkan suku bunga acuan total sebanyak 175 basis poin menjadi empat persen sejak Juli 2019.
 
“Transmisi di perbankan masih lambat. Jadi, kami turunkan 175 basis poin, tapi bunga kredit baru turun 74 basis poin,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam webinar Peran Perbankan Memulihkan Ekonomi di Jakarta.
 
Dia menjelaskan sejak Juli 2019 hingga Juli 2020, rata-rata suku bunga kredit saat ini mencapai 9,99 persen atau turun 74 basis poin dari 10,73 persen. Sementara itu, bunga deposito turun lebih banyak, yakni sebesar 116 basis poin dari 6,66 persen menjadi 5,50 persen.
 
Destry memperkirakan perbankan masih melakukan prinsip kehati-hatian dan membutuhkan waktu untuk menya­lur­kan pinjaman mencermati faktor risiko dampak pandemi covid-19.
 
“Oleh karena itu, proses pen­jaminan sangat penting yang sekarang menjadi fokus pemerintah untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit untuk pemulihan ekonomi nasional,” tambahnya.
 
Pemerintah mengalokasikan Rp123,46 triliun untuk membantu UMKM. Dari jumlah itu, untuk imbal jasa penjaminan Rp5 triliun, penjaminan modal kerja Rp1 triliun, dan pajak penghasilan ditanggung pemerintah Rp2,4 triliun.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif