NEWSTICKER
Gubernur BI Perry Warjiyo - - Foto: Medcom/ Husen Miftahudin
Gubernur BI Perry Warjiyo - - Foto: Medcom/ Husen Miftahudin

Tangkal Korona, BI Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 4,50%

Ekonomi bank indonesia suku bunga
Husen Miftahudin • 19 Maret 2020 15:36
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memutuskan kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI 7-Days Repo Rate) sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen. Kebijakan tersebut sebagai langkah bank sentral untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tantangan dan penyebaran virus korona atau covid-19.
 
"Berdasarkan asesmen menyeluruh terhadap ekonomi global, ekonomi makro, stabilitas sistem keuangan, dan berbagai aspek lainnya, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Maret 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam telekonferensi di Jakarta, Kamis, 19 Maret 2020.
 
Selain itu, Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen. Juga memangkas suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Langkah kebijakan moneter tersebut diklaim tetap akomodatif dan konsisten sejalan dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran tiga plus minus satu persen pada tahun ini. "Serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," ungkap Perry.
 
Adapun Bank Indonesia akan tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk mengendalikan inflasi tetap rendah dan stabil.
 
Sebelumnya, dampak virus korona dinilai terus menyerang sendi-sendi perekonomian dalam negeri. Sejumlah pengamat mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkoreksi cukup dalam pada kuartal pertama tahun ini.
 
Kepala Kajian Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Febrio Kacaribu menyebutkan kinerja ekonomi domestik terseret pembatasan perjalanan dan penerapan social distancing sehingga menyebabkan para pelaku bisnis mengurangi produksi barang dan/atau jasa, alhasil aktivitas ekonomi menjadi lebih rendah. Pandemi korona memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen (yoy) di kuartal I-2020.
 
"Untuk itu, dalam jangka panjang, langkah-langkah kebijakan yang strategis untuk memulihkan ekonomi di akhir wabah sangat penting untuk mengimbangi hilangnya produktivitas selama guncangan," ujar Febrio dalam rilis analisis makroekonomi LPEM UI yang diterima Medcom.id, Kamis, 19 Maret 2020.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif