Ilustrasi. Foto: dok.MI
Ilustrasi. Foto: dok.MI

Rupiah Keok di Tengah Isu Geopolitik Rusia-Ukraina

Ekonomi investor rupiah melemah Kurs Rupiah Dolar AS Rusia-Ukraina
Husen Miftahudin • 26 Januari 2022 17:01
Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan tipis di tengah kekhawatiran atas kondisi geopolitik Rusia-Ukraina. Pasalnya, hal ini menyebabkan penurunan selera risiko para investor.
 
"Dalam perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah tipis tiga poin walaupun sebelumnya sempat menguat enam poin di level Rp14.353 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.350 per USD," ungkap analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam siaran persnya, Rabu, 26 Januari 2022.
 
Ibrahim melanjutkan, Rusia menyatakan 'keprihatinan besar' setelah AS menempatkan 8.500 tentara yang siaga untuk siap dikerahkan jika terjadi invasi Rusia ke Ukraina. Inggris juga mendesak sekutu Eropa untuk menyiapkan sanksi jika terjadi eskalasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Para pemimpin Barat terus mempercepat persiapan untuk melawan setiap aksi militer Rusia di Ukraina," terang Ibrahim.
 
Selain itu, para pelaku pasar juga fokus terhadap kebijakan The Fed yang akan menurunkan keputusan kebijakannya di kemudian hari. Investor akan mencari petunjuk terkait kenaikan suku bunga dan pengetatan kuantitatif, tetapi pasar uang saat ini memperkirakan kenaikan pertama terjadi pada awal Maret 2022.
 
Sebelumnya, dalam notula rapat kebijakan moneter edisi Desember yang dirilis pada awal bulan ini, The Fed tidak hanya akan mengerek suku bunga sebanyak tiga kali di tahun ini. The Fed juga kemungkinan akan mengurangi nilai neracanya (balance sheet).
 
Bank of Canada juga akan menurunkan keputusan kebijakannya di kemudian hari, dengan dolar Kanada naik tipis menjadi 1,26 per USD. Menurutnya, ada sejumlah ketidakpastian besar dalam pengumuman suku bunga Bank of Canada pada Januari, karena pembuat kebijakan berusaha untuk menyeimbangkan data realisasi yang sangat kuat.
 
"Hal tersebut terkait pekerjaan dan inflasi dari kuartal keempat versus peningkatan tajam dalam infeksi covid-19 dan penguncian berikutnya pada akhir Desember dan Januari," urai Ibrahim.

Faktor domestik


Sedangkan dari domestik, Ibrahim memandang data terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi global akan tumbuh 4,4 persen pada 2022, turun 0,5 poin persentase dari perkiraan Oktober. Salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi yang akan melambat dikarenakan ekonomi akan bergulat dengan gangguan pasokan, inflasi yang lebih tinggi, rekor utang, dan ketidakpastian yang terus menerus.
 
"Ini akibat penyebaran varian baru Omicron yang cepat sehingga menyebabkan mobilitas baru di banyak negara dan meningkatkan kekurangan tenaga kerja," jelas dia.
 
Selain itu, Omicron akan membebani aktivitas pada kuartal I-2022 dan efek ini akan memudar di kuartal II-2022. Sedangkan ketidakseimbangan pasokan-permintaan diasumsikan menurun sepanjang 2022 berdasarkan ekspektasi industri akan peningkatan pasokan, karena permintaan secara bertahap menyeimbangkan kembali dari barang ke jasa dan dukungan kebijakan yang luar biasa ditarik.
 
Begitu pula pertumbuhan ekonomi di Indonesia di 2022 juga akan kembali menyusut, walaupun pemerintah sampai saat ini belum merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini pada kisaran 5,2 persen sampai 5,5 persen. Apalagi Bank Indonesia masih optimis pertumbuhan ekonomi di 2022 di berada di kisaran 4,7 persen hingga 5,4 persen.
 
"Kalau melihat IMF yang terus melakukan revisi pertumbuhan secara berkala, ini pun harus dilakukan oleh pemerintah karena sangat kurang moderat kalau pemerintah dan Bank Indonesia masih berpacu pada angka tersebut. Perkiraan angka yang tepat untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2022 adalah 4,0 persen sampai 4,5 persen," terang Ibrahim.
 
Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan rupiah masih melanjutkan pelemahan. "Mata uang rupiah besok kemungkinan dibuka berfluktuatif, namun ditutup melemah tipis di rentang Rp14.330 per USD sampai Rp14.370 per USD," pungkasnya.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif