Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan ketahanan sektor jasa keuangan masih dalam kondisi baik. Foto: Dok.MI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan ketahanan sektor jasa keuangan masih dalam kondisi baik. Foto: Dok.MI

Ketahanan Sektor Jasa Keuangan Kuartal III Terkendali, Ini Indikatornya

Ekonomi OJK jasa keuangan
Husen Miftahudin • 27 Oktober 2020 18:52
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan ketahanan sektor jasa keuangan hingga kuartal III-2020 masih dalam kondisi baik dan terkendali. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat permodalan yang memadai dan sejumlah profil risiko yang masih terjaga.
 
"Rasio permodalan bank atau Capital Adequacy Ratio (CAR) terjaga pada level cukup tinggi pada Agustus 2020, yaitu sebesar 23,39 persen. Bandingkan dengan kuartal II-2020 kemarin yang berada pada level 22,5 persen," ujar Wimboh dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) secara virtual di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2020.
 
Kecukupan likuiditas perbankan juga terjaga, hal ini ditunjukkan oleh berbagai indikator, antara lain Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) yang hingga 14 Oktober 2020 menguat menjadi 153,6 persen. Sementara pada kuartal II-2020, rasio AL/NCD tercatat hanya sebesar 122,9 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara rasio Alat Likuid (AL) terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada pada level 32,88 persen, meningkat dibandingkan dengan 26,24 persen di kuartal II-2020. Adapun DPK pada Agustus 2020 tumbuh sebesar 11,64 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada akhir kuartal II-2020 yang hanya sebesar 7,95 persen.
 
"Ini didominasi oleh pertumbuhan DPK BUKU IV (Bank Umum Kegiatan Usaha dengan modal inti lebih dari Rp30 triliun) yang mencapai 15,26 persen (yoy). Ini kita tahu bahwa banyak dana-dana yang disimpan, terutama oleh lembaga pemerintah di bank BUKU IV tersebut," paparnya.
 
Kredit perbankan pada Agustus 2020 mulai tumbuh positif sebesar 1,04 persen. Menurut Wimboh, angka pertumbuhan kredit ini menggembirakan mengingat selama April hingga Juni 2020 mengalami kontraksi yang cukup dalam.
 
Wimboh mengakui profil risiko lembaga jasa keuangan sedikit mengalami peningkatan pada Agustus 2020. Hal ini tercermin dari kenaikan tingkat kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) gross dari 3,11 persen di akhir kuartal II-2020 menjadi 3,22 persen di Agustus 2020.
 
Pun demikian dengan tingkat kredit macet di industri perusahaan pembiayaan atau Non Performing Financing (NPF). Tingkat NPF pada Agustus 2020 berada pada level 5,23 persen, meningkat dari posisi pada akhir kuartal II-2020 yang berada pada level 5,17 persen.
 
Di sisi lain, tingkat solvabilitas untuk melihat kesehatan keuangan perusahaan asuransi atau Risk Based Capital (RBC) di industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 506 persen dan 330,5 persen. Kata Wimboh, level tersebut jauh di atas ketentuan minimum yang diberlakukan untuk industri asuransi.
 
Namun demikian, penghimpunan premi industri asuransi tercatat sebesar Rp326,7 triliun sampai dengan Agustus 2020. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2020 yang hanya mencapai sebesar Rp243,2 triliun.
 
Di pasar modal, penghimpunan dana hingga 20 Oktober 2020 mencapai Rp92,2 triliun dengan 45 emiten baru. Terdapat 50 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan nilai mencapai Rp21,2 triliun.
 
"OJK tetap fokus memperkuat pengawasan terintegrasi untuk dapat mendeteksi secara dini berbagai potensi risiko terhadap stabilitas sistem keuangan dan terus memitigasi dengan kebijakan countercyclical untuk membantu percepatan pemulihan sektor riil dan perekonomian secara keseluruhan," pungkas Wimboh.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif