Ilustrasi - - Foto: MI/ PANCA SYURKANI
Ilustrasi - - Foto: MI/ PANCA SYURKANI

Suntik Likuiditas di Pasar Keuangan, Rupiah Berotot

Ekonomi bank indonesia Virus Korona kurs rupiah
Husen Miftahudin • 27 Maret 2020 19:01
Jakarta: Bank Indonesia (BI) berupaya menjaga nilai tukar rupiah tak tergelincir semakin dalam imbas merebaknya wabah virus korona (covid-19). Sejumlah cara dilakukan bank sentral, salah satunya dengan menyuntik likuiditas di pasar keuangan dan industri perbankan.
 
Alhasil, gelontoran likuiditas yang dilakukan Bank Indonesia pada pekan ini tersebut membuat mata uang Garuda perkasa meski masih di kisaran Rp16 ribu per USD. Mengutip data BI, nilai tukar rupiah mengalami penguatan pada hari ini.

 
"Pada akhir Kamis, 26 Maret 2020, rupiah ditutup melemah di Rp16.275 per USD. Pada Jumat pagi, 27 Maret 2020, rupiah dibuka menguat di level di Rp16.100 per USD," tulis Bank Indonesia mengutip catatan yang terpampang dalam laman resminya, Jakarta, Jumat, 27 Maret 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui telah menggelontorkan likuiditas untuk menginjeksi pasar keuangan dan perbankan hampir Rp300 triliun. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah imbas penyebaran virus korona di Tanah Air.
 
Suntikan likuiditas tersebut dilakukan melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebanyak Rp168 triliun. Kemudian menginjeksi transaksi repo surat berharga perbankan sekitar Rp55 triliun.
 
"Kemudian dari penurunan GWM (Giro Wajib Minimum) awal tahun maupun yang akan berlaku di April ini kurang lebih sekitar Rp75 triliun," ujar Perry dalam telekonferensi di Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020.
 
Meskipun demikian, Perry memastikan cadangan devisa yang dimiliki Bank Indonesia lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar. Ke depannya, bank sentral akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan kecukupan pasokan cadangan devisa demi stabilisasi rupiah.
 
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah bagaimana kemudian ke depan menjaga kecukupan cadangan devisa dalam rangka menstabilkan nilai tukar rupiah. Apalagi dengan kepanikan di dunia global yang masih tinggi, kami akan pantau terus," ungkapnya.
 
Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2020 tetap tinggi sebesar USD130,4 miliar atau setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif