Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan - - Foto: dok MI
Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan - - Foto: dok MI

OJK: Stabilitas Sistem Jasa Keuangan 2020 Terjaga Berkat Restrukturisasi Kredit

Ekonomi OJK Kredit jasa keuangan pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 15 Januari 2021 21:32
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan sepanjang tahun 2020 terjaga dengan baik di tengah tekanan ekonomi yang terjadi akibat pandemi covid-19. Capaian ini berhasil diperoleh lantaran OJK sudah menyiapkan berbagai kebijakan stimulus lanjutan untuk tetap menjaga industri jasa keuangan melalui kebijakan restrukturisasi kredit.
 
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, sejak diluncurkan pada 16 Maret 2020 sampai dengan akhir Desember 2020, program restrukturisasi kredit perbankan telah mencapai Rp971 triliun. Jumlah tersebut diberikan kepada 7,6 juta debitur atau sekitar 18 persen dari total kredit perbankan.
 
"Dari jumlah tersebut restrukturisasi kredit untuk sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang mencapai Rp386,6 triliun berasal dari 5,8 juta debitur. Sementara untuk non-UMKM, realisasi restrukturisasi kredit mencapai 1,8 juta debitur dengan nilai sebesar Rp584,4 triliun," ungkap Wimboh dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2021 secara virtual, Jumat, 15 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan program restrukturisasi tersebut, lanjut Wimboh, rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) gross perbankan dapat dijaga pada 3,06 persen dan NPL net sebesar 0,98 persen. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan juga terjaga mencapai 23,78 persen, naik dibandingkan 23,31 persen pada 2019.
 
Sejalan dengan itu, likuiditas perbankan masih cukup memadai (ample) ditandai oleh alat likuid perbankan yang terus meningkat mencapai sebesar Rp2.111 triliun dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar Rp1.251 triliun, dan Dana Pihak Ketiga yang tumbuh sebesar 11,11 persen (yoy).
 
"Alat Likuid per Non-Core Deposit 146,72 persen dan Liquidity Coverage Ratio 262,78 persen, lebih tinggi dari threshold-nya," jelas dia.
 
Namun, seiring dengan pembatasan sosial yang mendorong perlambatan aktivitas di sektor riil, kinerja intermediasi perbankan mengalami tekanan yang cukup signifikan. Kredit perbankan terkontraksi sebesar minus 2,41 persen (yoy).
 
Anjloknya kredit perbankan ini lebih disebabkan oleh korporasi besar yang cenderung masih belum beroperasi secara penuh. Beberapa korporasi juga memiliki kebijakan untuk mengurangi baki debet pinjaman dalam rangka mengurangi beban bunga.
 
Di sektor UMKM, berbagai kebijakan stimulus yang diberikan OJK dan pemerintah berdampak pada stabilnya pertumbuhan kredit UMKM dan mulai tumbuh positif pada beberapa bulan terakhir. Namun demikian, dampak pelunasan kredit oleh debitur besar berpengaruh pada penurunan pertumbuhan kredit di segmen korporasi dengan kontraksi hingga minus 3,4 persen (yoy).
 
Sebagai dampak dari belum pulihnya pertumbuhan kredit, maka Loan to Deposit Ratio (LDR) juga menurun dengan tajam menjadi sebesar 82,2 persen. Angka ini mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2019 yang sebesar 93,64 persen.
 
"Kondisi permodalan yang cukup tinggi dan kondisi likuiditas yang ample tersebut akan memberikan ruang yang cukup besar untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan," pungkas Wimboh.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif