Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Rupiah Gagal Salip Dolar AS

Ekonomi kurs rupiah
Angga Bratadharma • 14 Mei 2020 09:39
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis pagi terpantau melemah dibandingkan dengan hari sebelumnya di posisi Rp14.865 per USD. Mata uang Garuda gagal menghantam mata uang Paman Sam, di tengah pernyataan Fed bahwa resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) berpeluang berkepanjangan.
 
Mengutip Bloomberg, Kamis, 14 Mei 2020, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan ke Rp14.893 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.891 per USD hingga Rp14.897 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.710 per USD.
 
Di sisi lain, kurs dolar Amerika Serikat menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Kondisi itu terjadi karena permintaan untuk mata uang safe-haven meningkat setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan resesi berkepanjangan di tengah krisis covid-19.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,31 persen pada 100,2479. Indeks turun ke serendah 99,57 di awal sesi. Pada akhir perdagangan New York, euro turun jadi USD1,0815 dari USD1,0854 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun jadi USD1,2218 dari USD1,2280 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar Australia turun menjadi USD0,6440 dibandingkan dengan USD0,6492. Dolar AS dibeli 106,99 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 107,25 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9723 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9689 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,4108 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,4040 dolar Kanada.
 
Powell mengatakan krisis covid-19 meningkatkan kekhawatiran jangka panjang dan memperingatkan bahwa resesi yang berkepanjangan dan pemulihan yang lemah dapat menyebabkan periode panjang pertumbuhan produktivitas yang rendah dan pendapatan yang stagnan.
 
Gubernur bank sentral itu mengatakan walaupun respons ekonomi telah baik, tepat waktu, dan cukup besar, itu mungkin bukan bab terakhir, mengingat bahwa jalan di depan keduanya sangat tidak pasti dan tunduk pada risiko penurunan yang signifikan.
 
Ketua Fed juga menolak gagasan untuk menggunakan suku bunga negatif sebagai alat stimulatif, bahkan ketika ia mendengar nada suram tentang pertumbuhan ekonomi. Pemulihan ekonomi mungkin memakan waktu, tergantung pada kemajuan memerangi pandemi virus korona.
 
Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat turun tajam pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB), menyusul komentar suram dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait ekonomi AS. Adapun Powell memperingatkan adanya potensi resesi berkepanjangan di tengah krisis covid-19.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif