Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto
Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto

Gubernur BI Paksa Perbankan Pangkas Suku Bunga Demi Pemulihan Ekonomi

Ekonomi Perbankan Bank Indonesia suku bunga
Husen Miftahudin • 03 Desember 2020 13:34
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berjanji akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan yang rendah di tahun depan. Saat ini, suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 3,75 persen.
 
"Suku bunga kebijakan Bank Indonesia yang sekarang 3,75 persen, terendah sepanjang sejarah. Suku bunga akan tetap rendah sampai dengan muncul tanda-tanda tekanan inflasi meningkat," ucap Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia secara virtual, Kamis, 3 Desember 2020.
 
Selain itu, lanjutnya, likuiditas juga akan tetap longgar untuk mendukung penyaluran kredit perbankan. Bank sentral bahkan telah melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing (QE) sebanyak Rp682 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bank Indonesia telah melakukan quantitative easing sebesar Rp682 triliun atau 4,4 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Ini menjadi stimulus moneter yang terbesar di antara negara emerging market," ungkap Perry.
 
Untuk itu, ia terus memaksa perbankan untuk segera memangkas suku bunga dan menyalurkan kreditnya. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional.
 
"Sudah saatnya perbankan segera menurunkan suku bunga dan menyalurkan kredit sebagai komitmen bersama untuk pemulihan ekonomi nasional," tegas dia.
 
Momentum pemulihan ekonomi nasional perlu terus didorong dengan memperkuat sinergi membangun optimisme oleh semua pihak baik pemerintah pusat dan daerah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan, dan berbagai pihak lainnya. Vaksinasi dan disiplin protokol covid-19 merupakan kondisi prasyarat bagi pemulihan ekonomi nasional.
 
Perry juga menekankan, Bank Indonesia hadir dengan stimulus moneter makroprudensial yang akomodatif, digitalisasi sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, ekonomi syariah dan UMKM, kebijakan internasional dan transformasi lembaga.
 
BI juga akan senantiasa terus mengarahkan seluruh instrumen kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, berkoordinasi erat dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
 
"Stimulus kebijakan moneter akan dilanjutkan di 2021, stabilitas nilai tukar rupiah secara fundamental dan mekanisme pasar akan terus kami jaga untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional," tutup Perry.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif