Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO

Awali Pekan, Kurs Rupiah Pagi Tak Berdaya terhadap Dolar AS

Ekonomi rupiah melemah Kurs Rupiah Dolar AS
Angga Bratadharma • 06 Desember 2021 09:34
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin terpantau melemah ketimbang penutupan perdagangan di akhir pekan lalu di posisi Rp14.419 per USD. Mata uang Garuda gagal meredam keperkasaan mata uang Paman Sam seiring kemunculan varian Omicron.
 
Mengutip Bloomberg, Senin, 6 Desember 2021, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka melemah ke level Rp14.430 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.427 per USD hingga Rp14.447 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.386 per USD.
 
Sementara itu, mata uang safe haven yen dan franc Swiss naik pada akhir perdagangan Jumat lalu (Sabtu pagi WIB). Ekuitas global dan imbal hasil obligasi jatuh di tengah kekhawatiran penyebaran varian Omicron sehingga mengakibatkan pembatasan baru di beberapa bagian dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, diakibatkan kekhawatiran kemungkinan tindakan agresif Federal Reserve untuk mengekang inflasi yang melonjak. "Volatilitas tetap menjadi norma dalam beberapa pekan terakhir di tengah perubahan pandangan tentang kebijakan moneter, kekhawatiran inflasi, dan sekarang ketidakpastian Omicron," kata Action Economics.
 
Dolar membalikkan kenaikan menjadi sedikit menyusut pada hari itu setelah rilis laporan pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Hal ini masih termasuk revisi positif untuk bulan-bulan sebelumnya dan rincian kuat tentang pasar tenaga kerja.
 
Pelaku pasar memandang laporan penggajian tidak benar-benar mengubah rencana Fed untuk mempercepat pengurangan pembelian asetnya dan mungkin menaikkan suku bunga beberapa kali tahun depan meskipun ada ancaman Omicron.

Data penggajian

Departemen Tenaga Kerja melaporkan, data penggajian (payrolls) nonpertanian AS meningkat 210 ribu pekerjaan bulan lalu. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan akan naik 550 ribu pekerjaan.
 
Pertumbuhan pekerjaan Oktober direvisi naik menjadi 546 ribu posisi dari perkiraan awal 531 ribu dan lonjakan September meningkat menjadi 379 ribu dari 321 ribu, dengan kenaikan bersih 82 ribubdalam dua bulan. Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,2 persen dari 4,6 persen, level terendah sejak Februari 2020.
 
"Meskipun laporan penggajian beragam hari ini, kami pikir gambaran yang lebih besar tetap bahwa tekanan inflasi berkelanjutan di AS kemungkinan akan mendukung normalisasi kebijakan yang lebih cepat oleh Fed dan menjaga dolar tetap kuat," pungkas Ekonom Pasar Capital Economics Jonathan Petersen.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif