Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

IHSG Masih Tak Bertenaga, 396 Saham Tiarap

Ekonomi IHSG Pasar Modal IHSG Melemah
Angga Bratadharma • 10 Mei 2022 16:27
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa sore terpantau berada di area negatif. Untuk kedua kalinya, indeks tak mampu berbalik arah ke wilayah hijau di tengah agresifnya The Fed menaikkan suku bunga dan terus memanasnya tensi geopolitik yang kini kian keruh akibat ikut campur Amerika Serikat (AS) dan Nato.
 
IHSG Selasa, 10 Mei 2022, perdagangan sore berakhir di posisi 6.819 dengan level tertinggi di 6.832 dan terendah di 6.662. Volume perdagangan hari ini tercatat sebanyak 26 miliar lembar saham senilai Rp23 triliun. Sebanyak 162 saham menguat, sebanyak 396 saham tertekan, dan sebanyak 140 saham tidak diperdagangkan.
 
Sementara itu, Wall Street turun tajam pada akhir penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Indeks S&P 500 berakhir di bawah 4.000 untuk pertama kalinya sejak akhir Maret 2021 dan Nasdaq turun lebih dari 4,0 persen dalam aksi jual yang dipimpin oleh saham-saham pertumbuhan mega-cap karena investor semakin khawatir tentang kenaikan suku bunga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks Dow Jones Industrial Average terperosok 653,67 poin atau 1,99 persen menjadi 32.245,70. Indeks S&P 500 kehilangan 132,10 poin atau 3,20 persen menjadi 3.991,24, menandai pertama kalinya indeks jatuh di bawah ambang batas 4.000 dalam lebih dari setahun.
 
Indeks Komposit Nasdaq ditutup anjlok 521,41 poin atau 4,29 persen menjadi 11.623,25. Sebanyak 10 dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor energi dan real estat masing-masing terpuruk 8,3 persen dan 4,62 persen, memimpin penurunan. Sektor pokok konsumen naik tipis 0,05 persen, merupakan satu-satunya kelompok yang naik.
 
Nasdaq ditutup pada level terendah sejak November 2020. Saham Apple anjlok 3,3 persen dan merupakan bobot terbesar di Nasdaq dan S&P 500. Microsoft Corp tergelincir 3,7 persen dan Tesla Inc terpental 9,1 persen.
 
Investor khawatir tentang seberapa agresif Federal Reserve perlu menjinakkan inflasi. Bank sentral AS pekan lalu menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun AS yang menjadi acuan mencapai level tertinggi sejak November 2018 sebelum turun pada Senin, 9Mei.
 
"Pasar sedang mencerna awal kembalinya lingkungan kebijakan moneter yang lebih normal. Bergerak lebih agresif (pada suku bunga) meningkatkan momok resesi, terutama dengan semua komplikasi ini -inflasi tinggi, invasi Rusia ke Ukraina, gangguan rantai pasokan terkait covid," pungkas Kepala Strategi Pasar Global Invesco Kristina Hooper, di New York.

 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif