Ilustrasi resiko kredit macet. Foto: MI.
Ilustrasi resiko kredit macet. Foto: MI.

Bank Mandiri Minta Debitur Kooperatif dan Tanggung Jawab

Arif Wicaksono • 01 Juli 2022 14:21
Jakarta: Kredit macet PT Titan Infra Energy anak usaha dari Titan Group senilai USD450 juta kepada sejumlah kreditur sindikasi yang terdiri dari PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Credit Suisse, dan Trafigura belum menemukan titik terang.
 
Hingga tenggat waktu yang disepakati pada 30 Juni 2022 berlalu, para kreditur belum juga menerima proposal restrukturisasi kredit yang dijanjikan Direktur Utama PT Titan Infra Energy Darwan Siregar yang berkomitmen membuka kembali komunikasi untuk menyelesaikan tunggakan kewajibannya kepada para kreditur.
 
baca juga: Akhir Tahun, Pertumbuhan Kredit Perbankan Bisa Capai 7,5%

VP Corporate Communication Bank Mandiri Ricky Andriano mempertanyakan iktikad baik Titan untuk menunaikan kewajibannya. Pasalnya, sejak berhenti mencicil sesuai ketentuan yang berlaku pada Februari 2020, dan mendapat label kredit macet dari para kreditur pada Agustus 2020, hingga kini Titan tak melaksanakan kewajiban sesuai kesepakatan awal.
 
Bahkan, selama tiga tahun terakhir, kreditur sindikasi tidak pernah menerima laporan keuangan audited dari perusahaan batu bara ini. Padahal, operasional bisnis perusahaan tambang batu bara tersebut berlangsung normal, meski badai pandemi covid-19 menerpa negeri ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Solusi kredit macet ini sebenarnya simpel. Kalau memang Titan beriktikad baik, segera lunasi kreditnya ataupun bayar tunggakannya kepada seluruh kreditur sindikasi tanpa berdalih apapun," ujar Ricky dikutip dari keterangan tertulisnya, Jumat, 1 Juli 2022.
 
Sebab, berdasarkan data yang diterima kreditur sindikasi, penjualan batu bara yang dilakukan Titan mencapai USD226 juta lebih pada 2020 dan meningkat tajam pada 2021 mencapai USD281 juta lebih.
 
Hal itu salah satunya dipicu oleh tren harga batu bara dunia yang terus merangkak naik, dari USD40 per ton pada saat kredit disalurkan di 2018, melonjak hingga sempat menyentuh USD400 per ton pada Juni 2022. Kenaikan harga batu bara dan penjualan yang terus meroket itu kreditur sindikasi menilai Titan mampu menyelesaikan kewajibannya dan tak layak mengajukan restrukturisasi dengan alasan terdampak pandemi covid-19.
 
Para peserta kredit sindikasi, seperti disebutkan di awal, bukanlah rentenir ataupun pinjaman online ilegal, namun merupakan bank-bank yang memiliki reputasi tinggi di negara masing-masing. Artinya, seluruh keputusan yang telah disepakati keempat institusi keuangan tersebut sudah melalui proses penilaian yang menyeluruh.
 
"Tidak mungkin keempat lembaga keuangan ini menzalimi debiturnya sendiri, karena hidup bank justru dari debitur," imbuh Ricky.
 
Namun, sebagai lembaga intermediasi sumber utama pendanaan bank berasal dari simpanan nasabah. Itulah sebabnya bank akan berupaya keras kepada debitur untuk memenuhi kewajibannya jika debitur memiliki kemampuan membayar.
 
Sebaliknya, bila ada faktor force majeur tentunya bank akan melakukan restrukturisasi berupa rescheduling pembayaran, discount, dan opsi keringanan lainnya. Termasuk, ikut membantu mencarikan investor baru untuk meringankan beban debitur.
 
"Alasan yang disebutkan Titan tidak terpenuhi, karena perusahaan masih dalam keadaan baik. Bahkan, saat ini harga batu bara sudah 10 kali lipat dari harga awal. Tentunya, kemampuan perusahaan ada," pungkas Ricky.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif