Ilustrasi investasi saham - - Foto: MI/ Panca Syurkani
Ilustrasi investasi saham - - Foto: MI/ Panca Syurkani

Konstruksi dan Properti Jadi Pilihan Investasi Jangka Panjang

Ekonomi investasi properti konstruksi tips berinvestasi
Annisa ayu artanti • 13 Agustus 2020 15:08
Jakarta: Investor dituntut lebih cermat dalam berinvestasi di masa sulit. Apalagi tekanan global akibat pandemi virus korona menghantam hampir seluruh sektor perekonomian.
 
Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee merekomendasikan investasi jangka panjang di sektor konstruksi dan properti. Kedua sektor tersebut berpotensi besar di masa mendatang lantaran pemerintah masih akan menggenjot pembangunan infrastruktur di Tanah Air.
 
"Saya akan pilih konstruksi, karena konstruksi (harganya) belum naik banyak. Kemudian saya pilih properti juga belum naik," kata Hans kepadaMedcom.id, Kamis, 13 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain program pembangunan infrastruktur ke depan, sektor konstruksi juga menjadi tumpuan dalam penyerapan belanja negara. "Saya perkirakan belanja pemerintah akan mulai kencang, karena tanpa belanja pemerintah ekonomi tidak akan jalan," terang dia.
 
Mengutip laporan statistik Bursa Efek Indonesia, harga saham sektor saham properti,real estate,dan konstruksi masih terkoreksi minus 41,12 persen secarayear to date(ytd).
 
Di sisi lain, kondisi pasar sangat sensitif terhadap berbagai sentimen. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak positif dalam beberapa waktu terakhir.

 
Pada Kamis, 13 Agustus 2020 pukul 13.14 WIB IHSG berada di posisi 5.238,54 naik 5,09 poin atau 0,1 persen dari pembukaan perdagangan. Dalam tiga bulan terakhir, posisi IHSG sudah positif 13,66 persen.
 
Pergerakan positif tersebut disebabkan oleh sentimen positif dalam negeri berupa stimulus ekonomi. Mulai dari stimulus karyawan hingga stimulus yang diberikan kepada Usaha Mikro Kecil Menengah.
 
Selanjutnya uji klinis vaksin korona tahap tiga yang dilakukan PT Bio Farma juga menjadi angin segar bagi pasar.
 
"Itu sentimen yang pasar ada sehingga kemarin itu pasar menguat banyak," ujar dia.
 
Sementara dari luar negeri, pelaku pasar banyak mencermati konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Keduanya menjadi pusat perhatian dunia karena merupakan negara dengan ekonomi terbesar.
 
Pelaku pasar turut memperhatikan paket stimulus yang akan dikeluarkan oleh Amerika Serikat lantaran menjadi acuan bagi pasar global.
 
"Faktor stimulus Amerika Serikat karena kalau stimulus tidak disepakati maka pasar saham akan koreksi banyak," tukasnya.

 
(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif