Ilustrasi. Foto: AFP.
Ilustrasi. Foto: AFP.

Memperkuat Kebijakan Stabilitas Nilai Tukar

Ekonomi kurs rupiah
Media Indonesia • 30 Maret 2020 07:22
Untuk mendorong kestabilan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar. Hal itu sesuai dengan fun­damentalnnya untuk meningkatkan intensitas langkah stabilisasi di pasar domestic nondeliverable forward (DNDF), pasar spot rupiah, dan pembelian surat berharga negara (SBN).
 
"Dalam rangka mendorong kestabilan nilai tukar rupiah, BI akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi ni­lai tukar sesuai dengan fundamentalnya,” jelas ekonom Permata Bank, Josua Pardede, kepada Media Indonesia, Minggu, 29 Maret 2020.
 
Hal itu diungkapkan Josua menanggapi penguatan mata uang rupiah. Pada penutupan Jumat, 27 Maret 2020, rupiah menguat sebesar 1,08 persen. Penguatan itu menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di Asia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Josua melanjutkan di tengah situasi global tengah sangat tidak menentu karena serangan pandemi virus korona (covid-19) saat ini, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah-langkah kebijakan yang cepat dan tegas, khususnya dalam penanganan covid-19, dari aspek kesehatan dan membatasi korban yang meninggal. Apabila penanganan covid-19 dari aspek kesehatan dapat dilakukan dengan cepat, aspek ekonomi pun akan terselesaikan dengan cepat.
 
"Apabila penanganan covid-19 dari aspek kesehatan dapat dilakukan dengan cepat, penanganan covid-19 dari aspek ekonomi pun akan dapat diselesaikan dengan cepat pula," ujarnya.
 
Sebelumnya, pengamat ekonomi senior dari Center of Reform on Econo­­mics (Core) Piter Abdullah memperingatkan bahwa rupiah masih berpotensi untuk kembali melemah.
 
Piter menjelaskan penguatan rupiah yang terjadi beberapa hari lalu dipicu aksi borong saham yang terlalu murah oleh investor asing meskipun para investor tersebut menyadari ketidakpastian masih menghantui perekonomian global dan Indonesia. Karena itu, ia berpandangan sentimen negatif masih sangat kuat.
 
Menurut Piter, ada potensi para investor yang sudah membeli saham pada pekan ini akan melepas kembali saham mereka. Aksi itu bertujuan merealisasikan keuntungan karena masih besarnya risiko global.
 
"Jadi, sentimen negatif masih sangat kuat. Oleh karena itu, ada potensi pekan ini mereka yang sudah beli saham kemarin akan melepas kembali untuk merealisasikan keuntungan karena masih besarnya risiko global. Kalau itu terjadi, rupiah bisa kembali melemah," prediksi Piter.

Potensi IHSG

Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang besar melemah kembali setelah dua hari lalu mengalami kenaikan bersamaan dengan penguatan rupiah.
 
"Di awal pekan depan kami perkirakan IHSG akan terkoreksi terlebih dahulu setelah mengalami kenaikan banyak di perdagangan Kamis dan Jumat. IHSG sepekan membentuk candle naik dengan shadow di atas dan bawah indikasi kekuatan naik dengan fluktasi di pasar," papar Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee.
 
Selain itu, Hans merasa IHSG berpeluang konsolidasi melemah di pekan depan dengan support 4.100 sampai 3.911 dan resistance di level 4.697 sampai 4.937.
 
Hal itu dipicu penurunan ta­­jam perdagangan saham di Amerika Serikat pada penutupan Sabtu, 28 Maret 2020 pagi WIB. Indeks Dow Jones Industrial Average, misalnya, anjlok 915,39 poin atau 4,06 persen menjadi 21.636,78 poin. Indeks S&P 500 jatuh 88,60 poin atau 3,37 persen ditutup di 2.541,47 poin. Indeks komposit Nasdaq kehilangan 295,16 poin atau 3,79 persen menjadi 7.502,38 poin.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif