Ilustrasi aset Bank Indonesia - - Foto: MI/ Rommy Pujianto
Ilustrasi aset Bank Indonesia - - Foto: MI/ Rommy Pujianto

BI Diramal Pangkas Suku Bunga Jadi 4%

Ekonomi Bank Indonesia suku bunga
Husen Miftahudin • 16 Juli 2020 11:37
Jakarta: Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memproyeksi Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuanBI 7-Days Reverse Reposebesar 25 basis poin (bps) ke level 4,0 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2020. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator makroekonomi.

Pertama, sebutnya, alasan tekanan inflasi yang cenderung rendah. Inflasi dari sisi permintaan yang cenderung rendah mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat mengalami penurunan tajam. Tekanan inflasi yang rendah tersebut terindikasi dari inflasi per Juni 2020 yang tercatat kurang dari dua persen.
 
"Data-data lainnya yang turut mendukung lemahnya konsumsi rumah tangga adalah penurunan tajam dari indeks kepercayaan konsumen, penjualan eceran, nilai tukar petani, penjualan otomotif yang mengindikasikan konsumsi masyarakat berpotensi mengalami kontraksi," ujar Josua kepadaMedcom.id, Kamis, 16 Juli 2020.
 
Kedua, pertimbangan mengenai perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek yang cenderung stabil. Hal ini ditunjukkan dengan volatilitas nilai tukar rupiah secara rata-rata yang mengalami penurunan, terindikasi dari one-month implied volatility yang menurun menjadi 11,3 persen sepanjang Juli dari bulan sebelumnya yang yang tercatat di kisaran 12 hingga 13 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penurunan volatilitas rupiah tersebut sejalan dengan penurunan volatilitas di pasar keuangan global," paparnya.

 
Ketiga, lanjut Josua, terkait defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) pada kuartal II-2020 yang diperkirakan tetap rendah dan bahkan lebih rendah dibandingkan CAD pada kuartal I-2020 yang tercatat minus 1,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
 
Menurutnya, penurunan defisit transaksi berjalan tersebut terindikasi dari surplus neraca perdagangan pada kuartal II-2020 yang tercatat surplus sebesar USD2,91 miliar, meningkat dari kuartal sebelumnya yang tercatat surplus sebanyak USD2,59 miliar.
 
Ekspektasi kembali menurunnya defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2020 mengindikasikan bahwa aktivitas investasi serta permintaan domestik yang lemah, sehingga mendorong ekspektasi perlambatan ekonomi yang signifikan pada kuartal II-2020.
 
"Secara keseluruhan, penurunan suku bunga acuan BI bertujuan untuk memberikan stimulasi bagi perekonomian domestik khususnya sisi permintaan perekonomian dan mendukung aktivitas produksi yang secara gradual mulai membaik, khususnya dalam mendorong penurunan suku bunga perbankan sehingga dapat mengakselerasi momentum pemulihan ekonomi nasional," ucap Josua.
 
Saat ini suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo berada di level 4,25 persen. Pada RDG periode Juni 2020, bank sentral memutuskan untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps), dari level 4,50 persen.
 
"Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas perekonomian dan mendorong pemulihan ekonomi nasional di era covid-19 ini," kata Gubernur BI Perry Warjiyo waktu itu.
 
Menurut Perry, Bank Indonesia ke depan tetap melihat ruang penurunan suku bunga seiring dengan rendahnya tekanan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, termasuk rendahnya defisit transaksi berjalan, dan perlunya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.
 
"Di sisi lain, kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dan pelonggaran likuiditas (quantitative easing) akan terus dilanjutkan," ungkap Perry.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif