Bank Indonesia. Foto : MI.
Bank Indonesia. Foto : MI.

Halau Risiko Ketidakpastian, BI Perlu Kembali Tahan Suku Bunga

Ekonomi Inflasi Bank Indonesia suku bunga Ekonomi Indonesia
Husen Miftahudin • 18 Oktober 2021 19:39
Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menilai Bank Indonesia (BI) masih perlu mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate untuk periode Oktober 2021 di level 3,50 persen. Sebab, dukungan pemulihan ekonomi masih diperlukan di tengah risiko ketidakpastian di sisa 2021.
 
"Dengan masih adanya risiko di sisa 2021 dan inflasi yang terkendali, kami melihat BI harus terus mempertahankan suku bunga kebijakannya di 3,50 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pemulihan ekonomi nasional," ucap Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Rief ky dalam rilis Analisis Makroekonomi, Senin, 18 Oktober 2021.
 
Riefky menegaskan bahwa risiko ketidakpastian perlu mendapat perhatian utama bank sentral. Oleh sebab itu, suku bunga kebijakan moneter yang rendah perlu terus dilanjutkan mengingat situasi domestik dan eksternal saat ini, ditambah dengan inflasi rendah yang menunjukkan daya beli yang masih lemah, serta menjaga stabilitas rupiah agar tidak mengganggu potensi berlanjutnya momentum pemulihan ekonomi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, ia menilai percepatan dan perluasan program vaksinasi bersamaan dengan respons kebijakan yang akomodatif melalui stimulus fiskal dan moneter sangat penting untuk mendapatkan kembali momentum pertumbuhan ekonomi setelah melewati gelombang kedua pandemi akibat varian delta.
 
"Perekonomian berangsur-angsur kembali berjalan setelah pemerintah mulai secara perlahan melonggarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat. Secara keseluruhan, penurunan kasus harian covid-19 dan pelonggaran kebijakan PPKM ini diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi domestik," ungkapnya.
 
Sementara itu, neraca perdagangan yang kuat, posisi cadangan devisa yang lebih tinggi, dan berlanjutnya program pembelian obligasi pemerintah membantu menjaga nilai tukar dan memperkuat imbal hasil obligasi sehingga bisa menjaga ketahanan sektor eksternal.
 
Menurutnya, penerbitan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) sebagai bagian dari reformasi struktural juga berpotensi meningkatkan penerimaan pajak dan memperluas basis pajak seiring dengan pemulihan ekonomi, terutama dalam jangka panjang.
 
Adapun situasi eksternal yang agak bergejolak akibat krisis energi yang terjadi di Tiongkok, India, dan Eropa dapat mengancam pemulihan ekonomi global. Terlepas dari volatilitas terkini, rupiah terus terapresiasi menjadi sekitar Rp14.200 per USD dari sekitar Rp14.300 per USD.
 
"Ini didukung oleh situasi pandemi domestik yang lebih baik, kenaikan harga komoditas yang mendorong surplus perdagangan, serta cadangan devisa yang lebih tinggi," pungkas Riefky.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif