Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Rupiah Pagi Hantam Dolar AS

Ekonomi Kurs Rupiah
Angga Bratadharma • 08 Oktober 2020 09:40
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis pagi terpantau menguat ketimbang hari sebelumnya di posisi Rp14.710 per USD. Mata uang Garuda sukses menghantam mata uang Paman Sam yang tengah kehilangan tenaga usai rilis risalah Federal Reserve terkait kondisi ekonomi Amerika Serikat.
 
Mengutip Bloomberg, Kamis, 8 Oktober 2020, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menanjak ke Rp14.699 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.697 hingga Rp14.712 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.530 per USD.
 
Sementara itu, kurs dolar Amerika Serikat melemah pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena pelaku pasar meneliti risalah yang baru dirilis dari pertemuan September oleh Federal Reserve. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,05 persen menjadi 93,6374.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1765 dibandingkan dengan USD1,1752 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,2910 dari USD1,2900 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7140 dibandingkan dengan USD0,7116.
 
Sedangkan dolar AS dibeli 106,03 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 105,55 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9172 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9166 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3267 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3297 dolar Kanada.
 
Pejabat Federal Reserve AS menyatakan keprihatinannya karena pemulihan ekonomi AS dapat goyah jika Kongres gagal menyetujui kesepakatan tambahan bantuan virus korona, menurut risalah pertemuan kebijakan terbaru Fed. Bahkan, pejabat Fed percaya meski ekonomi AS pulih, tetap ada ancaman yang berkelanjutan.
 
"Para peserta terus melihat ketidakpastian seputar prospek ekonomi yang sangat tinggi. Dengan arah ekonomi yang sangat bergantung pada pergerakan virus yaitu pada bagaimana individu, bisnis, dan pejabat publik menanggapinya serta pada efektivitas langkah-langkah kesehatan yang dilakukan masyarakat untuk mengatasinya," kata risalah Fed.
 
Kepala Ekonom FHN Financial Chris Low menilai the Fed cukup senang dengan perkembangan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Namun, kondisi itu belum sesuai dengan harapan the Fed. "Masih ada dukungan luas untuk lebih banyak bantuan fiskal, dan kekhawatiran di antara peserta tidak adanya bantuan tambahan bisa mengganggu perekonomian," kata Low.
 
Adapun The Fed pada bulan lalu mempertahankan suku bunga acuan pada rekor level terendah mendekati nol persen dan memberi isyarat untuk mempertahankan kisaran target ini hingga setidaknya 2023. Langkah itu dengan harapan memberi efek positif terhadap upaya pemulihan ekonomi.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif