Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Gagal Bayar Utang, Tridomain Dinilai Harus Bisa Antisipasi Sebelum Jatuh Tempo

Ekonomi Emiten pandemi covid-19
Siti Yona Hukmana • 15 Juni 2021 08:54
Jakarta: PT Tridomain Performance Materials Tbk (TDPM) menyatakan gagal bayar (cross default) atas seluruh surat utang senilai Rp1,4 triliun yang diterbitkan perusahaan tersebut sejak satu bulan ini. Perusahaan petrokimia itu dinilai harus bisa mengantisipasi kewajibannya jauh hari sebelum surat utang jatuh tempo.
 
"Manajemen yang baik itu adalah yang bisa mengantisipasi sejak jauh hari. Kalaupun bisnisnya tertekan imbas covid-19, manajemen sudah bisa mengantisipasi sejak tahun lalu, bukan mendekati jatuh tempo baru melakukan roll over," kata pengamat pasar modal Kiswoyo Adi Joe dalam keterangan tertulis, Selasa, 15 Juni 2021.
 
Kiswoyo mengatakan kondisi gagal bayar surat utang sangat berdampak serius terhadap reputasi dan kepercayaan publik terhadap manajemen maupun perusahaan. Terlebih, jika bisnis dan fundamental perusahaan masih baik dan berjalan normal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Aneh jika manajemen mengaku fundamental dan operasional masih bagus, tapi tidak mampu memberikan skema terbaik dan optimal untuk membayar kewajibannya ke bondholder," ujar Kiswoyo.
 
Menurut dia, skema penyelesaian gagal bayar surat utang yang baik adalah perpanjangan tenor maksimal tiga tahun. Dengan kupon bunga normal merujuk ke bunga yang berlaku di pasar.
 
"Kalau mau memulihkan reputasi, jangan minta tenornya lima tahun dan diskon bunga di bawah bunga pasar. Kalau seperti itu, tidak masuk akal, sama saja mau pinjam duit publik tapi tidak mau dibebani bunga," ungkapnya.
 
Kiswoyo meminta regulator mewaspadai emiten yang mengaku usahanya terkena imbas covid-19, namun dalam kenyataannya masih mampu beroperasi secara baik. Sebab, hal itu bisa menjadi preseden negatif bagi iklim investasi di Indonesia.
 
Tercatat ada lima jenis surat utang yang diterbitkan TDPM dan seluruhnya gagal bayar, yaitu MTN I senilai US$ 20 juta, jatuh tempo 18 Mei 2021, MTN II senilai Rp410 miliar jatuh tempo 27 April 2021, MTN III senilai Rp250 miliar jatuh tempo 4 Juli 2021, obligasi I senilai Rp100 miliar jatuh tempo 8 Januari 2022, dan obligasi II senilai Rp400 miliar jatuh tempo 28 Juni 2022.
 
Sebelumnya, penasihat keuangan TDPM, Hendry Kurniadi menyebut TDPM tengah melakukan negosiasi dengan beberapa pemegang surat utang/bondholder untuk penyelesaian masalah tersebut. Negosiasi itu menawarkan penyelesaian memperpanjang tenor hingga lima tahun dengan pemberian kupon bunga 4 persen kepada bondholder.
 
"Skema awal, pertama diperpanjang tenor lima tahun suku bunga 4 persen dan perseroan tidak melakukan aksi korporasi," kata Hendry, Sabtu, 12 Juni 2021.
 
Baca: IHSG Berpotensi Tertekan Jika Ada Emiten Gagal Bayar Surat Utang
 
Skema kedua, 50 persen surat utang dikonversi ke equity dan 50 persen tetap sebagai utang yang akan dilunasi empat tahun dengan bunga 5 persen. Ketiga, tenor diperpanjang tiga tahun bunga 5 persen dan pada tahun ke-3, yakni 2023 melakukan right issue dan melunasi kewajiban.
 
Namun, beberapa investor menilai prproposal penyelesaian yang diajukan TDPM tidak optimal dan cenderung merugikan, yang menjadi bondholder Medium Term Notes (MTN) perusahaan tersebut. Selain tenor yang terlalu lama, kupon bunga yang ditawarkan juga sangat jauh di bawah kupon bunga saat penerbitan MTN sebesar 10,5 persen.
 
Bahkan, kupon bunga tersebut disebut jauh di bawah bunga kredit perbankan, serta kupon bunga obligasi secara umum. Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi perusahaan yang disebut masih mampu beroperasi secara baik.
 
(AZF)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif