Ilustrasi kredit macet perbankan - - Foto: Medcom
Ilustrasi kredit macet perbankan - - Foto: Medcom

Kredit Macet Perbankan Naik Jadi 3,11%

Ekonomi OJK Perbankan Kredit
Husen Miftahudin • 04 Agustus 2020 18:48
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyadari perlambatan ekonomi imbas pandemi covid-19 memberi dampak tak menyenangkan bagi kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Per Juni 2020, NPL perbankan naik menjadi 3,11 persen secara gross.
 
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan tren rasio kredit bermasalah terus mengalami kenaikan sejak munculnya pandemi covid-19 di Indonesia pada Maret 2020. Pada Desember 2019 misalnya, tingkat NPL masih berada di level 2,53 persen.
 
Kemudian naik menjadi 2,77 persen pada Maret 2020. Lalu tingkat NPL secara gross kembali naik pada April 2020 menjadi 2,89 persen. Selanjutnya di Mei 2020 kembali naik ke 3,01 persen dan 3,11 persen pada Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita lihat tren NPL juga slightly (sedikit) meningkat dari waktu ke waktu," ujar Wimboh dalam telekonferensi di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2020.
 
Menurut Wimboh, kenaikan tingkat NPL ini terjadi seiring dengan perlambatan ekonomi domestik. Di samping itu rasio kredit bermasalah perbankan juga didorong oleh debitur terdampak covid-19 yang tidak memanfaatkan program restrukturisasi kredit.
 
"Ini adalah betul-betul (didorong oleh) nasabah yang memang kenyataannya mengalami peningkatan (kredit bermasalah), namun tidak dalam konteks restrukturisasi," papar dia.
 
Berdasarkan jenis penyaluran kredit, NPL tertinggi terjadi pada kredit modal kerja sebesar 3,96 persen. Diikuti NPL kredit investasi 2,58 persen dan kredit konsumsi sebesar 2,22 persen.
 
Sementara secara sektor penyaluran kredit, NPL untuk sektor perdagangan sebesar 4,59 persen. Kemudian sektor pengolahan 4,57 persen dan sektor rumah tangga 2,32 persen. Ketiga sektor kredit ini memiliki porsi sebanyak 57 persen dari total kredit perbankan.
 
Meski demikian, sebutnya, kapasitas permodalan perbankan masih cukup kuat untuk memitigasi risiko dari kenaikan NPL dan juga mendorong pertumbuhan kredit ke depannya. Pada Juni 2020, rasio kecukupan modal aliascapital adequacy ratio(CAR) perbankan meningkat menjadi 22,59 persen.
 
"Angka (CAR) Juni tidak jauh berbeda dengan angka-angka sebelumnya. Jadi ini menunjukkan permodalan perbankan masih sangatresilience(ketahanan), dan ini mempunyai back up yang kuat untuk mendorong kredit ke depan," tegas Wimboh.
 
(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif