Pertemuan WEF Siap Bahas Sengketa Perdagangan AS-Tiongkok
Ilustrasi (AFP/YE AUNG THU)
Hanoi: Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk "menampar" lebih banyak pengenaan tarif atas barang-barang Tiongkok diatur untuk mendominasi pembahasan dalam pertemuan para petinggi dan pemimpin bisnis Asia yang dibuka di Hanoi, yakni pada Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) .

Lonjakan perdagangan yang meningkat antara Washington dan Beijing telah menyebabkan riak di ekonomi global dan sedang diawasi secara ketat di Asia Tenggara di mana banyak ekonomi negara-negara tersebut yang berfokus ekspor akan memperoleh keuntungan dari kejatuhan itu.

Trump telah memberlakukan bea cukai 25 persen pada barang-barang Tiongkok senilai USD50 miliar yang memicu respons balasan dari Beijing. Di sisi lain, Trump kembali berjanji pekan lalu untuk menaikkan tarif hingga mencapai USD200 miliar dalam impor Tiongkok sesegera mungkin.

Perselisihan yang memuncak membayangi Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) regional yang dimulai di Ibu Kota Vietnam, di mana para pemimpin dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan para eksekutif bisnis bertemu.



"Negara-negara ASEAN tidak ingin menghitung ayam mereka sebelum menetas, tapi saya pikir mereka melihatnya secara neto sebagai keuntungan bagi mereka karena itu berarti memindahkan manufaktur ke Asia Tenggara yang (sebelumnya) di Tiongkok," kata Managing Partner Baker McKenzie Fred Burke, seperti dikutip dari AFP, Rabu, 12 September 2018.

Peningkatan biaya tenaga kerja di ekonomi terbesar kedua di dunia telah mempercepat dorongan ke negara-negara seperti Vietnam dan Kamboja di mana sepatu Adidas, T-shirt H&M, dan ponsel Samsung dibuat dengan harga murah. Tidak ditampik, sengketa perdagangan antara AS dan Tiongkok memberikan efek tersendiri.

Melihat kondisi tersebut, beberapa perusahaan Tiongkok mulai memindahkan produksi mereka guna menghindari tarif AS yang baru. Meski perang dagang bisa memunculkan efek positif bagi peningkatan investasi asing di Asia Tenggara, namun beberapa analis memperingatkan dampak jangka panjangnya mungkin kurang cerah.

"Ada kekhawatiran bahwa proteksionisme tidak baik untuk Asia karena Asia adalah wilayah yang digerakkan oleh ekspor. Jadi setiap pergeseran menuju hambatan perdagangan tidak baik," ungkap Kepala Ekonom Asia-Pasifik IHS Markit Rajiv Biswas.

Perdagangan ASEAN meningkat dengan nilai hampir USD1 triliun antara 2007 dan 2014, menurut WEF, karena blok tersebut secara aktif telah merangkul liberalisasi perdagangan -berbeda dengan kebijakan yang dipromosikan oleh Trump.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id