Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. FOTO: Xinhua
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. FOTO: Xinhua

Dihantam Korona, IMF Yakin Ekonomi Tiongkok Tetap Tangguh

Ekonomi imf virus korona ekonomi china tiongkok
Antara • 04 Februari 2020 08:44
Washington: Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mendukung upaya-upaya Tiongkok untuk mengatasi wabah virus korona baru, dan yakin bahwa ekonomi Tiongkok tetap tangguh. Diharapkan solusi cepat dan tepat bisa segera dilakukan guna menekan virus tersebut.
 
"Simpati kami yang mendalam kepada semua orang yang terkena dampak situasi serius terkait virus korona. Kami mendukung upaya-upaya Tiongkok untuk merespons, termasuk tindakan fiskal, moneter, dan keuangan. Kami yakin ekonomi Tiongkok tetap tangguh," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 4 Februari 2020.
 
Dalam sebuah jumpa pers baru-baru ini, Juru Bicara IMF Gerry Rice juga telah menunjukkan dukungan untuk pertempuran Tiongkok melawan wabah, seraya mencatat bahwa Pemerintah Tiongkok jelas menganggap kondisi tersebut sangat serius.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rice mengatakan Tiongkok adalah ekonomi besar dengan sumber daya dan tekad untuk secara efektif memenuhi tantangan wabah pneumonia yang disebabkan oleh virus korona baru.
 
Sebelumnya, Bank Sentral China, People's Bank of China (PBOC) mengatakan dalam sebuah pernyataan pihaknya akan meluncurkan operasi pembelian kembali terbalik untuk mempertahankan likuiditas yang masuk akal dan berlimpah dalam sistem perbankan, serta pasar mata uang yang stabil, selama epidemi.
 
Bank sentral akan memompa 1,2 triliun yuan (USD173 miliar) ke dalam perekonomian untuk membantu membatasi kerugian pasar. Bank juga mengumumkan akan meningkatkan dukungan moneter dan kredit untuk perusahaan-perusahaan yang membantu memerangi virus, seperti perusahaan medis.
 
Ekonomi Tiongkok diperkirakan menerima pukulan yang jelas dari krisis, yang telah membuat kawasan industri terhenti. Pusat keuangan Shanghai -dan provinsi-provinsi manufaktur utama di selatan dan timur- adalah kawasan yang memerintahkan penutupan bisnis setidaknya untuk satu minggu lagi.
 
Banyak perusahaan asing juga menghentikan sementara operasinya di Tiongkok. "Dampak jangka pendek pada pertumbuhan PDB Tiongkok kemungkinan sangat besar," kata Oxford Economics dalam catatan penelitian.
 
"Mempertimbangkan area yang terkena dampak menyumbang lebih dari 50 persen dari total output Tiongkok, kami pikir ini dapat menyebabkan pertumbuhan PDB tahunan Tiongkokmelambat menjadi hanya empat persen pada kuartal pertama," tambahnya, turun dari perkiraan sebelumnya pertumbuhan enam persen.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif