Tiongkok. AFP;Mark Manson.
Tiongkok. AFP;Mark Manson.

Sejumlah Perusahaan Angkat Kaki dari Tiongkok

Ekonomi tiongkok Perang dagang
Arif Wicaksono • 07 April 2019 14:42
Beijing: Beberapa perusahaan Amerika Serikat (AS) memutuskan mengalihkan investasinya dari Tiongkok ke negara lain. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan Presiden AS Donald Trump, yang agresif dengan kenaikan tarif barang ekspor dari Tiongkok ke negara Paman Sam.
 
Go Pro dan Universal Electronic sudah memindahkan investasinya ke Meksiko. Hasbro sudah memindahkan investasinya ke AS, Meksiko, Vietnam, dan India. Aten International, perusahaan manufaktur teknologi asal Taiwan, memindahkan investasinya ke Taiwan. Sementara Danfoss, memindahkan basis produksi pemanasnya ke AS.
 
Survey dari UBS terhadap perusahaan berorientasi ekspor di Tiongkok pada 2018 menemukan fakta bahwa sepertiga perusahaan berniat 'angkat kaki' dari Tiongkok. Perusahaan tersebut memindahkan basis produksinya, yang sebesar 30 persen untuk kebutuhan ekspor.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Perusahaan tak mau bergantung ke satu tempat saja, sehingga membuat mereka mencari alternatif selain Tiongkok," kata Kepala eksekutif dari Standard Chatered Bank Bill Winters, seperti dikutip dari New York Times, Minggu, 7 April 2019.
 
Selain itu, beberapa perusahaan pembuat komponen smartphone yang tak terkena dampak dari perang dagang, keluar dari Tiongkok karena Negeri Panda itu sudah mendominasi rantai pasokan bisnis smartphone. Salah satunya, Sony yang menutup pabriknya di Beijing dan beralih ke Thailand. Adapun pembuat sepatu asal AS, Steve Madden, memindahkan basis produksinya ke Kamboja.
 
"Hasbro merencanakan pada 2020 akan mengurangi produksinya di Tiongkok dan memindahkan ke AS," ujar Brian Goldner, petinggi dan kepala eksekutif Hasbro.
 
Mereka tak hanya pindah ke negara yang lebih murah tetapi juga memilih bertahan di AS. Danfoss, perusahaan denmark untuk pembuat alat pemanas dan pendingin, memilih kembali ke AS kerena kenaikan biaya di Tiongkok terutama untuk pekerja yang memiliki keahlian tinggi. Danfoss memilih kembali ke AS setelah mengakuisisi perusahaan pemanas asal AS.
 
Tarif sebesar 25 persen yang Donald Trump berlakukan mempengaruhi beberapa industri seperti produksi hidrlolik yang dibuat oleh Danfoss di utara Tiongkok. Perusahaan pun kembali ke Paman Sam.
 
"Tak ada perbedaan antara biaya di Tiongkok dan AS, kamu harus memiliki kasus tertentu untuk memutuskan memproduksi barang di Tiongkok dan mengapalkannya kembali ke Amerika Serikat," kata Kim Fausing, presiden dari Danfoss.
 
Mengenai hal ini, menteri Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok Miao Wei mengakui bahwa lapangan pekerjaan semakin turun, karena upah pekerjya yang terus naik, telah membuat Tiongkok kehilangan daya saingnya dalam industri yang tak membutuhkan modal banyak.
 
"Kami fokus kepada high tech dan industri yang inovatif," kata dia.
 
Perusahaan juga mengeluhkan bahwa Tiongkok memberikan keistimewaan terhadap kompetitor lokal dan tak melakukan banyak hal untuk menekan pencurian hak cipta yang kerap terjadi.
 
Padahal Tiongkok tumbuh sebagai negara pembuat manufaktur terbesar selama dua dekade terakhir. Pendorongnya adalah karena banyaknya pekerja yang murah dan berkemampuan tinggi serta banyak perusahaan subkontraktor yang rela dibayar murah. Tiongkok juga punya jalan tol dan rel kereta api yang membantu pemasaran produknya untuk domestik.
 
Bahkan sepertiga nilai dari produksi manufaktur dunia berasal di negara tirai bambu itu. Nilainya naik dari hanya kontribusi sebesar delapan persen di 2000 berdasarkan data dari United Nations Industrial Development Organization (Unindo).
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif