Ilustrasi negara Korea Selatan. FOTO: AFP.
Ilustrasi negara Korea Selatan. FOTO: AFP.

Negara Berkembang Perlu Tiru Korsel

Ekonomi korea selatan
Nia Deviyana • 20 September 2019 20:12
London: Korea Selatan (Korsel) disebut sebagai bangsa paling kaya ide di dunia di tengah dominasi negara-negara Asia Timur dan Eropa Utara dalam peringkat 20 besar. Demikian seperti dilaporkan Global Economy Watch PwC.
 
Temuan tersebut diperoleh dari analisis PwC atas kumpulan data World Intellectual Property Organisation (WIPO) tentang hak paten yang diberikan pada 2017, dengan adanya penyesuaian ukuran populasi.
 
Analisis tersebut juga menunjukkan korelasi yang kuat antara intensitas ide dan belanja litbang, yang mana peringkat 20 besar didominasi oleh negara-negara dengan proporsi belanja penelitian tertinggi terhadap pertumbuhan domestik bruto (PDB).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Territory Senior Partner di PwC Indonesia Irhoan Tanudiredja menilai apa yang dicapai Korsel patut dicontoh Indonesia selaku negara berkembang.
 
"Pertumbuhan produktivitas global tercatat melambat sejak krisis keuangan 2008, mendorong pembaruan fokus pada penciptaan ide di kalangan pemerintah. Kami mengharapkan agar negara-negara berkembang dengan populasi perkotaan yang besar juga dapat memberi kontribusi terbesar terhadap penciptaan ide, menilik skala ekonominya," kata Irhoan, melalui keterangan resmnya, Jumat, 20 September 2019.
 
Inggris juga telah menembus peringkat 20 besar, yang mana jumlah hak paten yang diberikan per juta populasi tercatat sebanyak 311 paten, namun masih tertinggal dibandingkan banyak negara Eropa, termasuk Irlandia.
 
"Dengan jumlah hak paten yang absolut, Inggris menempati peringkat kedelapan di dunia," Direktur Economic Modelling and Econometrics dari PwC Inggris Jonathan Gillham.
 
Swedia, Finlandia, Denmark,dan Norwegia juga menunjukkan kinerja yang kuat. Sementara, AS masih stabil di peringkat 8-9 sejak 2010.
 
Jonathan mengatakan, ide dapat mendorong pertumbuhan ekonomi global, menghasilkan produk dan layanan baru yang inovatif, memperkuat persaingan, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan taraf hidup.
 
"Sehingga suatu negara yang meraih skor tinggi dalam pembuatan ide seharusnya dapat menjadi dasar keyakinan yang cukup tinggi dalam prospek pertumbuhan ekonomi di masa depan," kata dia.
 
Jonathan memaparkan beberapa faktor yang memengaruhi intensitas ide. Spesialisasi dan geografi adalah faktor-faktor pendorong yang penting. "Posisi penting negara-negara Nordik jelas berkaitan dengan investasinya dalam bidang-bidang teknologi terbarukan yang sedang berkembang. Demikian halnya, negara-negara Asia Timur menunjukkan kinerja yang kuat di bidang teknologi komputer, mesin listrik, dan komunikasi digital," papar dia.
 
Namun, lanjut Jonathan, ada hubungan positif yang kuat antara belanja litbang dan intensitas ide. Lebih dari seratus negara disertakan dalam analisis tersebut, dan diperkirakan bahwa sekitar 70 persen perubahan dalam intensitas ide sebuah negara, dapat dijelaskan dari pengeluarannya untuk penelitian dan pengembangan.
 
"Rekomendasi kami kepada pemerintah adalah bahwa gabungan antara investasi publik dan swasta dalam litbang dapat menghasilkan manfaat ekonomi nyata dan seharusnya menjadi bidang penting dalam kebijakan ekonom," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif