Ilustrasi. Foto  : AFP.
Ilustrasi. Foto : AFP.

Ekonomi Hong Kong Dipastikan Masuk Masa Resesi

Ekonomi ekonomi asia
Nia Deviyana • 28 Oktober 2019 20:24
Jakarta: Hong Kong dipastikan memasuki masa resesi setelah lebih dari lima bulan terjadi protes anti-pemerintah. Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan mengatakan Hong Kong tidak mungkin mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunan pada tahun ini.
 
Pemerintah Hong Kong akan mengumumkan perkiraan pertumbuhan ekonomi pada Kamis, 31 Oktober 2019. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi tercatat negatif pada kuartal kedua.
 
"Jika situasi berlanjut pada kuartal ketiga, artinya ekonomi Hong Kong telah memasuki resesi teknis," kata Paul Chan dalam sebuah postingan blog, seperti dilansir The Guardian, Senin, 28 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia juga menjelaskan angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2019 akan menunjukkan kontraksi pada dua kuartal berturut-turut. "Pukulan terhadap ekonomi kita komprehensif," imbuhnya.
 
Menurut Chan, Hong Kong sangat sulit mencapai target pertumbuhan ekonomi pemerintah yakni nol hingga satu persen pada tahun ini. "Saya tidak akan mengesampingkan kemungkinan bahwa pertumbuhan ekonomi setahun penuh akan negatif," kata dia.
 
Adapun aksi protes di kawasan bekas jajahan Inggris itu telah memasuki minggu ke-21. Pada Minggu, demonstran berpakaian hitam dan mengenakan topeng melakukan aksi pembakaran dan melemparkan bom bensin ke polisi.
 
Sementara, polisi merespons dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet.
 
Para pengunjuk rasa membakar toko-toko dan bank, terutama yang dimiliki oleh perusahaan Tiongkok, dan merusak sistem kereta bawah tanah.
 
Jumlah wisatawan anjlok. Chan mengatakan jumlah pelancong menurun hampir 50 persen pada Oktober 2010. Operator ritel, dari pusat perbelanjaan utama hingga bisnis keluarga, terpaksa tutup selama berhari-hari selama beberapa bulan terakhir.
 
Sementara, pihak berwenang telah mengumumkan langkah-langkah untuk mendukung usaha kecil dan menengah setempat. Namun, Chan mengatakan langkah-langkah itu hanya mampu mengurangi sedikit tekanan.
 
"Biarkan warga kembali ke kehidupan normal, biarkan industri dan perdagangan beroperasi secara normal, dan ciptakan lebih banyak ruang untuk dialog rasional," tulisnya.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif