Wall Street Ditutup Bervariasi Usai Cerak Rekor Tertinggi

Angga Bratadharma 25 Januari 2018 07:04 WIB
wall street
Wall Street Ditutup Bervariasi Usai Cerak Rekor Tertinggi
Ilustrasi (AFP PHOTO/Bryan R. Smith)
New York: Bursa saham Wall Street berakhir bervariasi pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB) setelah mencapai titik tertinggi sepanjang masa di awal sesi. Sebelumnya, Wall Street mengalami sedikit tekanan dari keputusan ditutupnya Pemerintahan Amerika Serikat (AS).

Mengutip Xinhua, Kamis, 25 Januari 2018, indeks Dow Jones Industrial Average menambahkan 41,38 poin atau 0,16 persen menjadi 26.252,19. Sedangkan S&P 500 mengalami penurunan 1,57 poin atau 0,06 persen menjadi 2.837,56. Indeks Nasdaq Composite turun 45,23 poin atau 0,61 persen menjadi 7.415,06.

Nasdaq yang mengalami tekanan turun karena saham Apple melemah 1,6 persen pada Rabu karena para analis memperkirakan pertumbuhan penjualan iPhone bisa melemah pada musim semi ini. Saham Facebook, Amazon, dan Alphabet juga diperdagangkan lebih rendah pada Rabu.


Ketiga indeks tersebut menyentuh rekor tertinggi di sesi pagi karena laporan pendapatan perusahaan secara keseluruhan positif. United Technologies, Baker Hughes dan NBC Universal-perusahaan induk Comcast semua melaporkan pendapatan yang mengalahkan ekspektasi analis.

Pada Rabu, sebanyak 77 persen dari perusahaan yang ada du S&P 500 telah melaporkan melampaui ekspektasi pendapatan, sementara 80 persen dari perusahaan tersebut telah mengalahkan perkiraan penjualan, menurut perusahaan informasi keuangan AS FactSet.

Di sisi lain, West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret naik USD1,14 menjadi di USD65,61 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret naik 57 sen menjadi ditutup pada USD70,53 per barel di London ICE Futures Exchange.

Persediaan minyak mentah turun 1,1 juta barel dalam pekan yang berakhir 19 Januari menjadi 411,6 juta, memperlebar penurunan secara tahun ke tahun sebesar 0,7 poin menjadi 15,7 persen, kata Administrasi Informasi Energi AS dalam laporan mingguannya.

 



(ABD)