Kurs Yuan kian Mengkhawatirkan
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Jakarta: Nilai tukar mata uang Tiongkok, Yuan, terperosok ke level tujuh yuan per dolar Amerika Serikat (AS). Hal itu belum pernah terjadi sejak krisis keuangan global pada 2008 silam.

Sebagai informasi, pergerakan kurs yuan diawasi secara ketat karena mata uang itu merupakan titik krusial dalam perang dagang AS dan Tiongkok. Namun, menurut pemerintahan rezim Presiden AS Donald Trump, Tiongkok sengaja berulah dengan cara tidak adil mempertahankan nilai tukar mata uang mereka di level rendah untuk membantu meningkatkan nilai ekspor negara itu.

Sebaliknya, Beijing menepis anggapan itu dan berkilah mereka justru ingin menjaga agar nilai tukar yuan tetap stabil. Jadi, siapa yang benar?

Hal pertama, penting untuk diingat bahwa mata uang Tiongkok tidak seperti mata uang lainnya. Yuan tidak diperdagangkan secara bebas.

Bank sentral Tiongkok setiap hari menetapkan titik panduan dan mengirimkan sinyal ke pasar. Saat ini, kurs yuan bergerak mendekati kisaran tujuh yuan per dolar AS. Jika melihat historinya, kemerosotan nilai tukar yuan pada 2017 disebabkan ulah Trump.

Pasalnya, selama kampanye pemilihan presiden AS, dia mengecam Tiongkok telah memanipulasi nilai tukar yuan agar ekspor Tiongkok meningkat dan perdagangan AS terhadap 'Negeri Tirai Bambu' itu defisit.

Untuk diketahui, posisi nilai tukar yuan yang terjadi saat ini, yaitu tujuh yuan per dolar AS, pernah terjadi 10 tahun lalu, yakni saat krisis keuangan global melanda negara-negara di dunia. Kini, kurs yuan yang pernah terjadi 10 tahun lalu itu diperkirakan akan berlangsung kembali.

Menurut sejumlah analis, termasuk Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics, mata uang Tiongkok akan berada di bawah tekanan dalam beberapa bulan ke depan dan mungkin akan menyentuh level tujuh yuan per dolar AS.




Penyebab Depresiasi

Para analis keuangan menilai depresiasi yuan terjadi akibat sejumlah faktor. Sebagian disebabkan kian perkasanya dolar yang mendapat manfaat dari kepercayaan pada ekonomi AS dan fakta bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, telah menaikkan suku bunga secara bertahap.

Namun, faktor ekonomi Tiongkok yang sedang melambat dinilai ikut berkontribusi. Seperti diketahui, ekonomi Tiongkok pada kuartal ketiga 2018 tercatat tumbuh 6,5 persen. Hal itu merupakan pertumbuhan paling lambat sejak 2009.

Di lain hal, menurut Capital Economics, perbedaan dalam nilai kekayaan ekonomi kedua negara telah menyebabkan divergensi dalam kebijakan moneter. Fenomena itu kerap mengarah ke pergerakan nilai tukar yang dikelola otoritas Tiongkok.

Faktor lainnya ialah kekhawatiran tentang perang dagang antara AS dan Tiongkok yang memengaruhi ekonomi 'Negeri Tirai Bambu' itu. Pertikaian dagang kedua negara tersebut secara langsung ikut mendorong kemerosotan nilai tukar yuan.

Bahkan, setelah Trump meningkatkan tekanan terhadap Tiongkok di awal tahun ini, nilai tukar yuan terkoreksi tajam. Sementara itu, para pejabat AS berpandangan, persoalan nilai tukar yuan merupakan masalah yang perlu ditangani sebagai bagian dari dampak perang dagang.

Kini, pemerintah kedua negara telah menyadari hal itu. Pada November, Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping akan bertemu untuk mencoba menyelesaikan perang dagang. (Media Indonesia)



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id