Ilustrasi (Foto: RBS)
Ilustrasi (Foto: RBS)

Pertumbuhan Ekonomi Global Diyakini Melambat di 2019

Ekonomi ekonomi dunia ekonomi global
Angga Bratadharma • 05 Januari 2019 17:02
New York: UBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat pada 2019. Kondisi itu dinilai akan terjadi seiring kebijakan moneter yang lebih ketat, pertumbuhan pendapatan yang lebih lemah, dan tantangan politik yang dihadapi ekonomi utama dunia.
 
Setelah melihat pertumbuhan ekonomi di angka 3,8 persen pada 2018, UBS mengatakan dalam prospeknya, untuk tahun mendatang pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,6 persen pada 2019. Adapun perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok turut membebani pertumbuhan ekonomi dunia.
 
"Prospek kami adalah bahwa pertumbuhan ekonomi AS akan dibatasi oleh meledaknya stimulus fiskal dan suku bunga yang lebih tinggi," kata ekonom di UBS, dalam sebuah catatan, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, Tiongkok menghadapi tekanan ganda dari tarif impor AS dan penyeimbangan kembali ekonomi. "Penurunan pertumbuhan ekonomi dunia mengartikan daya penarik lebih lemah di pasar global. Mulai dapat diantisipasi dari siklus ekonomi ketika 2019 berlangsung," kata UBS
 
Sedangkan permintaan domestik yang kuat di zona euro tidak akan cukup untuk mengimbangi penurunan pertumbuhan ekspor. Sisi baiknya, UBS mengatakan, resesi tampaknya tidak mungkin terjadi mengingat tingkat konsumsi, investasi, dan pertumbuhan lapangan kerja saat ini diyakini tidak turun tajam di 2019.
 
"Basis kasus kami adalah agar inflasi tetap terkendali, yang memungkinkan bank sentral tetap peka terhadap pertumbuhan. Kami tidak melihat perubahan kebijakan fiskal besar atau guncangan harga komoditas. Neraca konsumen dalam kondisi solid dan peningkatan kapitalisasi sektor perbankan sejak krisis keuangan mengurangi risiko krisis kredit global," tuturnya.
 
Lebih lanjut, UBS mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi dan pendapatan berkurang secara agregat. Tetapi perlambatan ini tidak akan dirasakan secara seragam oleh setiap negara, sektor, atau perusahaan. UBS mengharapkan pertumbuhan yang kuat di perusahaan-perusahaan yang terpapar tren sekuler seperti pertumbuhan populasi, penuaan, dan urbanisasi.
 
"Sementara itu, beberapa aset sudah mulai menjadi faktor dalam latar belakang yang lebih menantang," pungkasnya.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif