Perang Dagang Lebih Mengkhawatirkan Daripada Suku Bunga Fed
Ilustrasi (THOMAS SAMSON/AFP)
New York: Perang dagang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok adalah ancaman terbesar bagi pasar saat ini, bukan kebijakan moneter dari Federal Reserve. Sejauh ini, kedua negara masih tetap dengan keputusannya untuk saling mengenakan tarif tinggi, bahkan belum ada tanda-tanda kata sepakat.

"Saya jauh lebih fokus tentang Tiongkok daripada apa yang dilakukan Ketua Fed Jerome Powell dengan kebijakan moneternya. Apakah perang dagang akan panjang dan berlarut-larut serta merusak hingga 2019, ataukah ada cara untuk mencapai meja perundingan," Kepala Strategi Pasar B Riley FBR Art Hogan, seperti dilansir dari CNBC, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Tiongkok dan Amerika Serikat saling menerapkan tarif barang bernilai miliaran dolar. Sikap proteksionisme dalam perdagangan ini telah membuat para investor gelisah selama hampir sepanjang tahun, karena mereka takut kondisi perdagangan yang lebih ketat dapat memperlambat ekonomi global.



Tarif telah menjadi pokok pembicaraan yang dibahas oleh perusahaan-perusahaan pada musim penghasilan ini. Ekuitas turun tajam pada bulan ini di tengah kekhawatiran atas pendapatan perusahaan dan kekhawatiran kenaikan suku bunga, di antara faktor-faktor lainnya.

The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali tahun ini. Diperkirakan juga menaikkan sekali lagi sebelum akhir tahun. "Saya pikir mereka akan membuat keputusan yang tepat ke depan dan jika hal-hal mulai tergelincir, mereka akan mundur," kata Hogan.

Indeks Dow Jones dan S&P 500 masing-masing turun sebanyak 7,1 persen dan 8,9 persen pada Oktober. Sedangkan Nasdaq telah kehilangan lebih dari 11,5 persen pada bulan ini. Kepala Strategi Investasi BMO Capital Markets Brian Belski berpikir kondisi ini lebih rendah karena didorong lebih oleh faktor teknis daripada memburuknya fundamental.

"Jika Anda melihat pada 10 perusahaan terbesar di S&P 500 yang telah mengalahkan pendapatan, Anda memiliki pendukung seperti Oracle, Microsoft, dan UnitedHealth. Ini adalah lembaga Amerika," pungkasnya.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id