NEWSTICKER
Ilustrasi. FOTO: Kena Betancur/AFP
Ilustrasi. FOTO: Kena Betancur/AFP

Wall Street Bervariasi di Tengah Ketakutan Virus Korona

Ekonomi wall street
Antara • 27 Februari 2020 07:12
New York: Saham-saham di Wall Street bervariasi pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Kondisi itu terjadi karena investor mencerna data ekonomi terbaru di tengah kekhawatiran dampak ekonomi dari virus korona yang menyebar lebih jauh ke seluruh dunia.
 
Mengutip Antara, Kamis, 27 Februari 2020, indeks Dow Jones Industrial Average turun 123,77 poin atau 0,46 persen, menjadi ditutup di 26.957,59 poin. Indeks S&P 500 berkurang 11,82 poin atau 0,38 persen, menjadi berakhir di 3.116,39 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup naik 15,16 poin atau 0,17 persen, menjadi 8.980,77 poin.
 
Sebagian besar dari 30 perusahaan komponen Dow ditutup di wilayah merah, dengan Walt Disney dan Chevron masing-masing merosot 4,83 persen dan 2,67 persen, memimpin kerugian. Sebanyak 10 dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup lebih rendah, dengan energi dan utilitas masing-masing turun 2,97 persen dan 0,97 persen, dua sektor dengan kerugian teratas.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kasus-kasus virus korona menyebar di Eropa dan sekitarnya pada Rabu waktu setempat, dengan Amerika Latin mengonfirmasikan pasien pertamanya ketika dunia berjuang untuk mengatasi epidemi yang telah menewaskan ribuan orang di seluruh dunia.
 
Sementara itu di Timur Tengah, virus tersebut telah merenggut 19 nyawa di Iran -penghitungan tertinggi di luar Tiongkok- dengan 139 terinfeksi. Pakistan juga mendeteksi dua kasus pertamanya pada Rabu waktu setempat, beberapa hari setelah menutup perbatasannya dengan Iran, yang juga muncul sebagai hotspot utama virus korona.
 
Di Asia, Korea Selatan tetap menjadi negara yang paling terkena dampak setelah Tiongkok, dengan wabah dilacak ke sekte agama di Kota Daegu selatan. Virus korona baru telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan menginfeksi lebih dari 80.000 di 34 negara, meskipun sebagian besar kasus masih ada di Tiongkok, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
 
Tetapi WHO mengatakan lebih banyak kasus baru sekarang tercatat di luar Tiongkok daripada di dalam negeri, tempat virus itu pertama kali muncul pada akhir Desember. Kekhawatiran atas penyebaran epidemi telah mengguncang pasar global dalam beberapa hari terakhir, membuat pasar-pasar saham Eropa, Amerika Serikat dan Asia dilanda aksi jual.
 
Di data ekonomi, Departemen Perdagangan AS mengatakan penjualan rumah keluarga tunggal baru bulan lalu berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 764.000, naik 7,9 persen dibandingkan dengan angka revisi Desember.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif