Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Ketegangan Geopolitik Reda, Minyak Dunia Menyusut

Ekonomi minyak mentah
Angga Bratadharma • 08 Januari 2020 08:02
New York: Harga dunia minyak turun pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB), karena kekhawatiran investor terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda. Di sisi lain, disepakatinya kesepakatan dagang fase satu antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok turut memengaruhi pergerakan harga minyak.
 
Mengutip Xinhua, Rabu, 8 Januari 2020, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari turun USD0,57 menjadi USD62,70 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah brent untuk pengiriman Maret turun USD0,64 menjadi USD68,27 per barel di London ICE Futures Exchange.
 
Amerika Serikat membunuh Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran Quds, dalam serangan udara di Baghdad pada Jumat lalu. Hal itu meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut. Menyusul berita itu, harga minyak melonjak selama dua sesi sebelumnya dengan minyak mentah Brent mencapai USD70 per barel.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat berakhir lebih rendah pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Kondisi itu terjadi karena Wall Street menimbang risiko geopolitik yang muncul usai serangan udara yang dilakukan AS terhadap seorang Jenderal Iran pada minggu lalu.
 
Indeks Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 119,70 poin atau 0,42 persen menjadi 28.583,68. Sedangkan S&P 500 turun 9,10 poin atau 0,28 persen menjadi 3.237,18. Indeks Komposit Nasdaq turun 2,88 poin atau 0,03 persen menjadi 9.068,58.
 
Semua 11 sektor utama S&P 500 berubah negatif pada penutupan, dengan real estat dan konsumen turun masing-masing 1,19 persen dan 0,73 persen, memimpin penurunan. Di sisi data, Departemen Perdagangan melaporkan, pesanan pabrik AS turun 0,7 persen pada November untuk menandai penurunan ketiga dalam empat bulan.
 
Indeks non-manufaktur AS naik menjadi 55 persen pada Desember dari pembacaan November 53,9 persen, menurut Institute for Supply Management. Angka di atas 50 persen dipandang positif bagi perekonomian. Sedangkan di bawah 50 menandakan perekonomian sedang kontraksi.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif